Dari Malaysia ke Vietnam, Indonesia Tertinggal di Peta Persaingan Asia Tenggara

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:00 WIB
Dari Malaysia ke Vietnam, Indonesia Tertinggal di Peta Persaingan Asia Tenggara

Saya sempat melihat secercah optimisme ketika dia menggelar sarasehan ekonomi beberapa waktu lalu. Acara semacam itu perlu sering diadakan. Soalnya, kalau cuma mendengar dari bawahan, suara rakyat bisa terfilter habis.

Lain cerita dengan Fafafifi maaf, saya bahkan tak bisa menebak apa gagasan utamanya. Kosong. Sunyi. Tak ada terang yang jelas.

Lihat saja realita penerimaan pajak tahun ini. Itu harusnya jadi alarm. Ada dua kemungkinan: pertama, ekonomi memang melambat. Atau kedua, sektor non-taxable makin meluas, yang artinya makin banyak yang beralih ke kerja informal. Dua-duanya sama-sama mengkhawatirkan dan butuh perhatian serius.

Tapi, ah, kita ini kan negara paling bahagia, ya? Sering dengar klaim itu. Kalau ada yang bilang begitu, saya cuma bisa berkomentar: mantap. Lanjutkan.

Memang, penguasa mana yang tidak suka rakyat yang nrimo dan pandai bersyukur? Sikap itu dianggap sangat stoik, sangat tabah. Namun begitu, jangan lupa: solusi hanya bisa ditemukan ketika kita berani mengakui bahwa masalah itu ada. Menutup mata tidak akan menyelesaikan apa-apa.

Adios!

(Disarikan dari cuitan @txtdaritaxpayer)


Halaman:

Komentar