Ingat dulu, posisi kita sering dibanding-bandingkan dengan Malaysia. Saingan seimbang, katanya. Tapi perlahan, jaraknya makin jauh. Target pun bergeser. Thailand jadi patokan baru. Eh, ternyata di sana juga kita mulai tertinggal. Kini, yang sering disebut selevel adalah Vietnam dan Filipina. Padahal, Vietnam sendiri sudah mulai melesat. Pertumbuhannya nyaris 8%, jauh di atas kita. Lalu apa? Tak menutup mata, rivalitas berikutnya mungkin cuma tinggal Kamboja, Laos, atau Myanmar. Situasi yang bikin miris.
Ini kemerosotan yang nyata. Kita tertinggal, dan itu sulit dibantah.
Nah, biasanya muncul argumen klasik. "Ah, Indonesia kan negara besar. Ribuan pulau, tantangannya lain dong dengan negara kecil." Memang iya. Tapi setiap negara punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, kan? Ada peluang, ada ancaman. Kalau terus-terusan menyalahkan faktor eksternal, rasanya seperti pengalihan isu belaka.
Mending fokus pada hal yang bisa kita kendalikan.
"Kualitas SDM," begitu salah satu poin kuncinya.
Lalu, "clean government." Pemerintahan yang bersih dan profesional.
Ngomong-ngomong soal ini, saya kadang gerah dengan sebagian diaspora. Hidup nyaman di negara maju, lalu menasihati kita untuk nerima saja kondisi dalam negeri. "Doakan saja yang berkuasa tetap bertahan lama, biar mereka belajar," katanya. Ya ampun. Belajar itu kan di sekolah, atau sebelum memegang tampuk kepemimpinan. Kalau sudah menjabat, waktunya eksekusi, bukan coba-coba.
Dari sisi ini, setidaknya Prabowo masih punya gagasan yang terlihat. Mau benar atau salah nantinya, berhasil atau gagal, waktu yang akan membuktikan. Kekurangannya, barangkali, dia terlalu ingin berterima kasih dan merangkul semua pihak. Akibatnya, kritik dan saran yang jujur kadang sulit masuk.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Pencak Silat Sebagai Cermin Jati Diri dan Ilmu Kesatria
Tim SAR Kerahkan Drone Thermal Cari Remaja 14 Tahun yang Hilang di Hutan Mamuju
Arsenal Tersungkur di Kandang Sendiri, Bournemouth Menang 2-1
Ayah di Cianjur Ditahan Diduga Cabuli Anak Kandung Usia 10 Tahun