Dari Malaysia ke Vietnam, Indonesia Tertinggal di Peta Persaingan Asia Tenggara

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:00 WIB
Dari Malaysia ke Vietnam, Indonesia Tertinggal di Peta Persaingan Asia Tenggara
Opini: Peta Persaingan Kita yang Berubah

Ingat dulu, posisi kita sering dibanding-bandingkan dengan Malaysia. Saingan seimbang, katanya. Tapi perlahan, jaraknya makin jauh. Target pun bergeser. Thailand jadi patokan baru. Eh, ternyata di sana juga kita mulai tertinggal. Kini, yang sering disebut selevel adalah Vietnam dan Filipina. Padahal, Vietnam sendiri sudah mulai melesat. Pertumbuhannya nyaris 8%, jauh di atas kita. Lalu apa? Tak menutup mata, rivalitas berikutnya mungkin cuma tinggal Kamboja, Laos, atau Myanmar. Situasi yang bikin miris.

Ini kemerosotan yang nyata. Kita tertinggal, dan itu sulit dibantah.

Nah, biasanya muncul argumen klasik. "Ah, Indonesia kan negara besar. Ribuan pulau, tantangannya lain dong dengan negara kecil." Memang iya. Tapi setiap negara punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, kan? Ada peluang, ada ancaman. Kalau terus-terusan menyalahkan faktor eksternal, rasanya seperti pengalihan isu belaka.

Mending fokus pada hal yang bisa kita kendalikan.

"Kualitas SDM," begitu salah satu poin kuncinya.

Lalu, "clean government." Pemerintahan yang bersih dan profesional.

Ngomong-ngomong soal ini, saya kadang gerah dengan sebagian diaspora. Hidup nyaman di negara maju, lalu menasihati kita untuk nerima saja kondisi dalam negeri. "Doakan saja yang berkuasa tetap bertahan lama, biar mereka belajar," katanya. Ya ampun. Belajar itu kan di sekolah, atau sebelum memegang tampuk kepemimpinan. Kalau sudah menjabat, waktunya eksekusi, bukan coba-coba.

Dari sisi ini, setidaknya Prabowo masih punya gagasan yang terlihat. Mau benar atau salah nantinya, berhasil atau gagal, waktu yang akan membuktikan. Kekurangannya, barangkali, dia terlalu ingin berterima kasih dan merangkul semua pihak. Akibatnya, kritik dan saran yang jujur kadang sulit masuk.

Saya sempat melihat secercah optimisme ketika dia menggelar sarasehan ekonomi beberapa waktu lalu. Acara semacam itu perlu sering diadakan. Soalnya, kalau cuma mendengar dari bawahan, suara rakyat bisa terfilter habis.

Lain cerita dengan Fafafifi maaf, saya bahkan tak bisa menebak apa gagasan utamanya. Kosong. Sunyi. Tak ada terang yang jelas.

Lihat saja realita penerimaan pajak tahun ini. Itu harusnya jadi alarm. Ada dua kemungkinan: pertama, ekonomi memang melambat. Atau kedua, sektor non-taxable makin meluas, yang artinya makin banyak yang beralih ke kerja informal. Dua-duanya sama-sama mengkhawatirkan dan butuh perhatian serius.

Tapi, ah, kita ini kan negara paling bahagia, ya? Sering dengar klaim itu. Kalau ada yang bilang begitu, saya cuma bisa berkomentar: mantap. Lanjutkan.

Memang, penguasa mana yang tidak suka rakyat yang nrimo dan pandai bersyukur? Sikap itu dianggap sangat stoik, sangat tabah. Namun begitu, jangan lupa: solusi hanya bisa ditemukan ketika kita berani mengakui bahwa masalah itu ada. Menutup mata tidak akan menyelesaikan apa-apa.

Adios!

(Disarikan dari cuitan @txtdaritaxpayer)

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar