SBY Difitnah, Tak Terlibat Desain Isu Ijazah Jokowi
Isu soal ijazah Presiden Joko Widodo kembali mencuat. Kali ini, namanya Susilo Bambang Yudhoyono yang ditarik-tarik ke dalam pusaran polemik. Aam Sapulete, selaku Pendiri Jaringan Nusantara, angkat bicara. Dengan tegas, ia membantah segala tudingan yang menyebut SBY punya andil dalam mendesain atau menyebarkan isu tersebut.
"Ini murni fitnah politik," ujar Aam dalam keterangannya, Jumat lalu.
Menurutnya, sama sekali tidak ada bukti objektif yang menunjukkan keterlibatan SBY. "Tidak ada satu pun. Semua ini cuma rekayasa yang dibangun dari spekulasi, untuk kepentingan kelompok tertentu saja," tegasnya.
Sebagai seorang negarawan, track record SBY dalam menjaga etika berpolitik sebenarnya sudah jelas. Selama dua periode memimpin negeri ini, SBY tak pernah menjadikan latar belakang pendidikan lawan sebagai senjata. Ia lebih memilih jalur institusional, menghindari politik yang bersifat personal dan merusak.
"Beliau tidak punya preseden untuk praktik semacam itu," sambung Aam.
Lalu, kenapa nama SBY bisa terseret? Aam punya analisisnya sendiri. Menurut dia, kemunculan kembali isu lama ini justru mengindikasikan krisis narasi di internal sejumlah kelompok politik. Ketika konflik substantif buntu, isu simbolis pun dimunculkan. Figur besar seperti SBY jadi sasaran empal untuk mengalihkan perhatian dan menciptakan kegaduhan.
Ini pola klasik, katanya.
Ada juga yang mencoba menghubung-hubungkan SBY melalui Roy Suryo. Logika ini, bagi Aam, sudah salah kaprah dari awal. Roy Suryo kini berdiri sebagai individu independen, tanpa lagi memiliki ikatan struktural dengan Partai Demokrat atau SBY. Bahkan, Roy Suryo sendiri sudah membantah keterlibatan mantan bosnya itu.
"Narasi itu sebenarnya sudah gugur dengan sendirinya," jelas Aam.
Di sisi lain, Aam melihat ada pola yang lebih sistematis di sini. Serangan terhadap SBY belakangan ini bukan sekadar kritik biasa. Ini upaya untuk membangun persepsi negatif lewat framing yang diulang-ulang, terutama di media sosial. Isu ijazah Jokowi cuma pintu masuk. Target sesungguhnya adalah delegitimasi moral seorang tokoh bangsa yang pengaruhnya masih kuat.
Ironisnya, justru karena SBY memilih menjaga jarak dari hiruk-pikuk politik praktis hari ini, posisinya jadi rentan. Dia tidak menyerang, tapi malah jadi sasaran tembak.
"Dilemahkan secara reputasi," ucap Aam.
Ia mengingatkan, demokrasi kita harusnya diisi dengan kritik yang berdasar data, bukan tuduhan tanpa bukti. Ruang publik yang dipenuhi spekulasi dan fitnah hanya akan merusak kualitas demokrasi itu sendiri. Masyarakat perlu lebih cerdas memilah.
"Beda antara informasi dan manipulasi. Jangan sampai kita terjebak dalam narasi adu domba yang justru menguntungkan segelintir pihak," pungkas Aam menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Aceh dan Sumut
Kematian Bos Kartel El Mencho Picu Gelombang Kekerasan di Meksiko
LPDP Perketat Pengawasan, 600 Penerima Beasiswa Diselidiki atas Dugaan Pelanggaran
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026