Macron Soroti Kecenderungan AS Menjauh dari Sekutu dan Aturan Global

- Jumat, 09 Januari 2026 | 09:48 WIB
Macron Soroti Kecenderungan AS Menjauh dari Sekutu dan Aturan Global

Di hadapan para duta besar Prancis di Istana Elysee, Kamis lalu, Emmanuel Macron tak sungkan menyampaikan pandangannya yang cukup tajam tentang sekutu lama. Sorotan utamanya? Amerika Serikat. Menurut Presiden Prancis itu, AS perlahan-lahan mulai menjauh dari sekutu-sekutunya dan terkesan melepaskan diri dari aturan internasional yang berlaku.

"Amerika Serikat adalah kekuatan mapan, tetapi secara bertahap sedang berpaling dari sebagian sekutunya dan membebaskan diri dari aturan internasional," ujar Macron, seperti dilaporkan AFP.

Pidato tahunannya itu memang penuh kritik. Dunia saat ini, dalam pandangannya, tengah memasuki era persaingan kekuatan besar. Dan situasi itu berisiko membelah tatanan global yang ada. "Kita hidup di dunia kekuatan besar dengan godaan nyata untuk membagi-bagi dunia," tambahnya.

Meski turut menyoroti China yang dinilainya semakin agresif, serta Rusia sebagai "kekuatan yang mendestabilisasi" akibat perang di Ukraina, kritik Macron terhadap Washington terasa paling menonjol. Namun begitu, ia sama sekali tidak menyerukan pemutusan hubungan. Sikap ini muncul tak lama setelah utusan AS hadir dalam pertemuan penting di Paris yang membahas gencatan senjata Rusia-Ukraina.

Di sisi lain, Macron merasa kecaman internasional terhadap AS belakangan ini semakin menjadi. Pemicunya, tindakan pasukan AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya. Banyak pihak menilai langkah itu merusak hukum internasional. Belum reda keributan itu, ketegangan memuncak lagi ketika Presiden Donald Trump menyatakan keinginannya mengambil alih Greenland.

Ya, wilayah otonom Denmark itu tiba-tiba jadi bahan perbincangan. Pernyataan Trump itu langsung memicu kemarahan Denmark dan sekutu Eropa lainnya. Pemerintah Denmark bahkan memberi sinyal keras: serangan terhadap Greenland bisa berarti akhir dari aliansi NATO.

Dalam kondisi global yang serba tak menentu ini, Macron mengakui lembaga-lembaga multilateral seperti tak berfungsi efektif. Tapi, ia bersikukuh bahwa tata kelola global tetap krusial. Ia pun menyerukan agar komunitas internasional kembali memperkuat PBB.

"Ini adalah momen yang tepat untuk berinvestasi kembali sepenuhnya di PBB, ketika kita melihat pemegang saham terbesarnya tidak lagi percaya padanya," tegasnya.

Tak hanya soal itu, Macron juga menekankan bahwa Eropa harus mulai melindungi kepentingannya sendiri. Caranya, antara lain dengan memperkuat regulasi di sektor teknologi. Ia secara khusus membela dua regulasi Uni Eropa yang kerap dikritik AS: Digital Services Act (DSA) dan Digital Markets Act (DMA).

"DSA dan DMA adalah dua regulasi yang harus dipertahankan," katanya dengan tegas.

AS sendiri selama ini menilai aturan-aturan tersebut sebagai bentuk pemaksaan terhadap platform media sosial asal mereka untuk menyensor pandangan yang tak sejalan dengan kebijakan Eropa. Bagi Macron, ini soal menjaga independensi dan ruang informasi yang terkendali tempat dimana pendapat bisa dipertukarkan dengan bebas.

Pada akhirnya, pesannya kepada para diplomat Prancis jelas. Mereka tidak boleh hanya jadi penonton. "Ini justru sebaliknya. Kita tidak di sini untuk berkomentar. Kita di sini untuk bertindak," ucap Macron mengakhiri.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar