✍🏻 Erizeli Jely Bandaro
Suatu kali, seorang teman dari Amerika Serikat melontarkan pertanyaan yang bikin saya cuma bisa tersenyum. "Apa di Indonesia ada pelajaran pintar korupsi?" ujarnya. Saya sudah hampir selesai tertawa, eh dia nambahin, "Gratis nggak bayarnya?"
Nah, bicara soal humor, stand-up comedy itu biasanya tumbuh subur di tempat-tempat yang tingkat literasinya tinggi. Kenapa? Humor model begini kan dasarnya menertawakan realita lewat ironi, bukan lewat amarah. Penonton yang bisa tertawa biasanya mereka yang paham konteks, bisa menangkap makna ganda, dan nggak gampang tersinggung. Intinya, baik komika maupun penontonnya sama-sama punya bekal literasi yang cukup.
Di sisi lain, di masyarakat dengan literasi rendah, stand-up comedy seringkali nggak nyambung. Apalagi di Indonesia – maaf ya – yang tingkat literasinya menurut berbagai laporan internasional memang masih jeblok, dan skor IQ rata-ratanya juga nggak tinggi-tinggi amat. Alhasil, jangan heran kalau yang terjadi bukannya tawa, tapi ketersinggungan. Ironi dibaca sebagai hinaan. Satire dianggap serangan pribadi. Ujung-ujungnya, bukannya tepuk tangan, yang datang malah laporan polisi.
Ya, cuma di Indonesia komedian bisa berurusan dengan aparat karena materi lawakannya. Ini sebenarnya bukan soal leluconnya yang keterlaluan, lho. Ini lebih ke soal ketidakmampuan membedakan mana kritik sosial dan mana penghinaan. Singkatnya, ya itu tadi: persoalan literasi.
Artikel Terkait
Dapur, Masakan, dan Kenangan Ibu: Dua Cerpen yang Menyimpan Memori Kolektif
Relawan Bogor Bangun Hunian Darurat dan Bawa Harapan ke Aceh Tamiang
Longsor di Kudus Seret Dua Kendaraan ke Jurang
Istri di Balik Badai Haji: Eny Retno, Perempuan yang 21 Tahun Hidup dalam Sunyi