Ironi di Panggung Komedi: Ketika Tawa Berujung Laporan Polisi

- Jumat, 09 Januari 2026 | 07:40 WIB
Ironi di Panggung Komedi: Ketika Tawa Berujung Laporan Polisi

✍🏻 Erizeli Jely Bandaro

Suatu kali, seorang teman dari Amerika Serikat melontarkan pertanyaan yang bikin saya cuma bisa tersenyum. "Apa di Indonesia ada pelajaran pintar korupsi?" ujarnya. Saya sudah hampir selesai tertawa, eh dia nambahin, "Gratis nggak bayarnya?"

Nah, bicara soal humor, stand-up comedy itu biasanya tumbuh subur di tempat-tempat yang tingkat literasinya tinggi. Kenapa? Humor model begini kan dasarnya menertawakan realita lewat ironi, bukan lewat amarah. Penonton yang bisa tertawa biasanya mereka yang paham konteks, bisa menangkap makna ganda, dan nggak gampang tersinggung. Intinya, baik komika maupun penontonnya sama-sama punya bekal literasi yang cukup.

Di sisi lain, di masyarakat dengan literasi rendah, stand-up comedy seringkali nggak nyambung. Apalagi di Indonesia – maaf ya – yang tingkat literasinya menurut berbagai laporan internasional memang masih jeblok, dan skor IQ rata-ratanya juga nggak tinggi-tinggi amat. Alhasil, jangan heran kalau yang terjadi bukannya tawa, tapi ketersinggungan. Ironi dibaca sebagai hinaan. Satire dianggap serangan pribadi. Ujung-ujungnya, bukannya tepuk tangan, yang datang malah laporan polisi.

Ya, cuma di Indonesia komedian bisa berurusan dengan aparat karena materi lawakannya. Ini sebenarnya bukan soal leluconnya yang keterlaluan, lho. Ini lebih ke soal ketidakmampuan membedakan mana kritik sosial dan mana penghinaan. Singkatnya, ya itu tadi: persoalan literasi.

Padahal, menurut sejumlah pemikir, satire justru jadi tanda kedewasaan sebuah masyarakat. Dia menuntut kemampuan berpikir abstrak dan keberanian untuk menertawakan diri sendiri. Tanpa dua hal itu, humor yang seharusnya menyehatkan malah berubah jadi ancaman.

Tapi ada ironi yang lebih besar lagi. Kalau mau cari stand-up comedy yang paling konsisten, justru datangnya dari mimbar kekuasaan. Coba deh perhatikan, setiap kali sebagian pejabat atau menteri berpidato – dengan gaya bicara, pilihan kata, dan logika yang kadang terputus dari realita – spontan publik tertawa. Bedanya, ini bukan komedi yang disengaja. Memang mereka orang-orang yang lucu secara tidak sadar.

Pada akhirnya, masyarakat yang sehat adalah yang bisa menertawakan dirinya sendiri. Kalau sebuah lelucon dianggap lebih berbahaya daripada kebijakan yang nyata-nyata gagal, ya yang perlu kita pertanyakan bukan komediannya. Tapi literasi kita bersama.

(")

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar