Padahal, menurut sejumlah pemikir, satire justru jadi tanda kedewasaan sebuah masyarakat. Dia menuntut kemampuan berpikir abstrak dan keberanian untuk menertawakan diri sendiri. Tanpa dua hal itu, humor yang seharusnya menyehatkan malah berubah jadi ancaman.
Tapi ada ironi yang lebih besar lagi. Kalau mau cari stand-up comedy yang paling konsisten, justru datangnya dari mimbar kekuasaan. Coba deh perhatikan, setiap kali sebagian pejabat atau menteri berpidato – dengan gaya bicara, pilihan kata, dan logika yang kadang terputus dari realita – spontan publik tertawa. Bedanya, ini bukan komedi yang disengaja. Memang mereka orang-orang yang lucu secara tidak sadar.
Pada akhirnya, masyarakat yang sehat adalah yang bisa menertawakan dirinya sendiri. Kalau sebuah lelucon dianggap lebih berbahaya daripada kebijakan yang nyata-nyata gagal, ya yang perlu kita pertanyakan bukan komediannya. Tapi literasi kita bersama.
(")
Artikel Terkait
Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Jadi Tersangka Kasus Kekerasan Seksual
Debt Collector di Metro Diamankan, Diduga Gelapkan Mobil Debitur Rp285 Juta
Mentan Ancam Alihkan Anggaran Daerah yang Tak Serius Cetak Sawah
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin