Dia menegaskan hal itu dalam pernyataan resmi. Posisi Rusia jelas: mereka menolak keras keterlibatan negara-negara NATO dalam bentuk pasukan penjaga perdamaian apa pun. Dan risiko serangan terhadap pasukan itu sangat nyata.
Di sisi lain, kesepakatan Paris itu memang membuka peluang. Inggris, Prancis, dan sekutu Eropa lainnya berpotensi mengerahkan pasukan ke Ukraina tapi itu baru akan terjadi jika gencatan senjata tercapai. Masalahnya, rinciannya masih sangat kabur. Mandat seperti apa, mekanisme bagaimana, semua belum jelas benar.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sendiri mengakui ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kyiv, misalnya, belum mendapat kejelasan tentang apa yang akan dilakukan pasukan tersebut jika Rusia kembali menyerang. Belum lagi isu-isu pelik lain yang masih menggantung: status wilayah Donbas, atau situasi pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia. Semuanya masih jadi teka-teki.
Jadi, meski sekutu Ukraina menyatakan jaminan keamanan mereka mencakup mekanisme pemantauan pimpinan AS dan pengerahan pasukan multinasional, jalan menuju perdamaian tetap terlihat panjang dan berliku. Dan ancaman dari Moskow sudah terang benderang di atas meja.
Artikel Terkait
Cuitan Dokter Tifa Soal Kondisi Hamba Allah yang Didesak Dibawa ke Luar Negeri
Blangkejeren-Kutacane Dibuka, Namun Jalan Masih Penuh Rintangan
Gus Ipul: Santunan Korban Jiwa Bencana Sumatera Mulai Disalurkan
Rocky Gerung Muncul di Rakernas PDIP, Dampingi Elite Partai di Ancol