Memang, skalanya belum seluas gerakan dua tahun lalu yang menelan korban ratusan jiwa. Tapi situasi kali ini punya tekanan sendiri. Negeri ini sedang dilanda krisis ekonomi yang parah, belum lagi bayang-bayang perang singkat dengan Israel pertengahan tahun lalu. Kombinasi yang berbahaya.
Korban Berjatuhan di Teheran
Buktinya, Selasa lalu di Teheran, demo besar berubah ricuh. Sebuah LSM HAM yang berbasis di Norwegia, IHR, melaporkan puluhan orang tewas. Angkanya mencapai 27 orang, dan yang memilukan, lima di antaranya adalah anak-anak di bawah umur.
Biaya hidup yang mencekik dan mata uang yang terus melemah jelas jadi bensin yang menyulut amarah warga.
Laporan IHR juga menyoroti tindakan aparat yang dinilai kelewat batas. Mereka disebut menyerbu sebuah rumah sakit di Hasanabad, Teheran, dan menembakkan gas air mata ke dalam gedung. Sebuah klaim yang tentu saja menambah suram gambaran situasi.
Di sisi lain, kepolisian Iran lewat AFP mengonfirmasi bahwa mereka pun kehilangan anggotanya dalam kerusuhan-kerusuhan ini. Sebuah pengakuan yang jarang, dan mungkin menggambarkan betapa runyamnya keadaan di lapangan.
Artikel Terkait
Akreditasi Tinggi, Layanan Sepi: Ilusi Mutu Perpustakaan yang Tersandera Angka
Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai