Kawasan Kampung Apung di Penjaringan, Jakarta Utara, perlahan-lahan mulai terendam air laut. Itu terjadi Kamis lalu, 8 Januari 2026. Warga setempat masih berusaha beraktivitas seperti biasa di tengah genangan yang semakin meluas, meski situasinya jelas tak nyaman.
Fenomena ini bukan kejadian satu-satunya. Menurut kajian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kondisi penurunan muka tanah di Ibu Kota sudah masuk fase yang benar-benar mengkhawatirkan. Data mereka menunjukkan, amblesan tanah bukan cuma angka di peta dampaknya langsung terasa. Risiko banjir rob makin tinggi, belum lagi ancaman kerusakan permanen pada bangunan-bangunan di atasnya.
Intinya, tanah yang turun membuat banyak titik di Jakarta jadi lebih rendah dari permukaan laut. Akibatnya, saat air laut pasang atau hujan deras mengguyur, genangan air hampir tak terelakkan lagi.
Namun begitu, masalahnya kini sudah meluas. Amblesan tanah ini bukan sekadar persoalan teknis geologi belaka. Prosesnya mungkin lambat, tapi konsisten, dan justru itulah yang berbahaya. Fenomena ini telah menjelma jadi pemicu utama kerentanan Jakarta terhadap banjir.
Tanpa langkah penanganan yang serius dan terkoordinasi dari semua pihak, krisis banjir di ibu kota diprediksi akan semakin parah di tahun-tahun mendatang. Situasinya mendesak untuk segera ditangani.
Artikel Terkait
Akreditasi Tinggi, Layanan Sepi: Ilusi Mutu Perpustakaan yang Tersandera Angka
Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai