Riset Sebut Indonesia Paling Bahagia, Pengamat Soroti Peran Iman di Balik Angka

- Kamis, 08 Januari 2026 | 10:25 WIB
Riset Sebut Indonesia Paling Bahagia, Pengamat Soroti Peran Iman di Balik Angka

Sebuah riset global baru-baru ini menempatkan Indonesia di puncak daftar negara paling bahagia di dunia. Hasil studi kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan Gallup itu mengundang beragam tafsir. Yang menarik, respons Presiden Prabowo Subianto justru penuh haru.

Dalam pidatonya di acara Natal Nasional 2025 di Tenis Indoor Senayan, ia menyampaikan kekagumannya.

“Di mana hampir 200 negara, negara yang rakyatnya setelah ditanya, menjawab bahwa rakyat tersebut mengalami bahagia. Negara yang paling nomor satu di dunia sekarang, rakyat yang mengatakan bahagia adalah bangsa Indonesia. Ini mengharukan bagi saya,"

Namun begitu, apakah kebahagiaan itu benar-benar bisa disamakan dengan tingkat kesejahteraan? Menurut pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, Presiden tak perlu larut dalam asumsi itu. Baginya, respons haru itu wajar, tapi jangan sampai terjebak pada logika yang terlalu sederhana.

“Kalau negara tersebut sejahtera atau makmur, maka rakyatnya diasumsikan akan bahagia. Sebaliknya, di negara berkembang dan miskin, maka diasumsikan akan sedikit rakyatnya yang bahagia?” tanya Jamiluddin kepada wartawan, Kamis lalu.

Pertanyaannya memang menggelitik. Asumsi semacam itu, lanjutnya, baru akan relevan jika kita memandang kebahagiaan semata dari kacamata duniawi. Di situ, ukurannya jelas: ekonomi, materi, dan kesejahteraan fisik.

Tapi realitanya tidak sesederhana itu.

Masyarakat Indonesia, kata Jamiluddin, punya dimensi lain. Ada yang mencari kebahagiaan akhirat, ada pula yang mengejar keseimbangan antara dunia dan akhirat. Bagi kedua kelompok ini, tolok ukur kebahagiaan jelas berbeda. Mereka tak akan serta-merta mengaitkan rasa bahagia dengan kondisi finansial semata.

“Namun rakyat suatu negara, termasuk Indonesia, ada juga yang mencari tempat kebagiaan di akhirat dan keseimbangan dunia akhirat. Dua kelompok ini tidak akan mengukur kebagiaan semata dari kesejahteraan,” jelasnya.

Bagi yang memprioritaskan akhirat, keimanan adalah sumber kebahagiaan utama. Jadi meski secara ekonomi belum mapan, perasaan bahagia itu tetaplah nyata dan tulus. Hal serupa berlaku untuk kelompok kedua. Ketika harapan duniawi belum sepenuhnya terpenuhi, keyakinan akan kehidupan setelah mati memberi mereka ketenangan dan kepuasan batin.

Kesimpulannya, menurut Jamiluddin, cukup tegas.

“Karena itu, kebahagiaan rakyat Indonesia bukan karena kesejahteraan tapi lebih bersumber dari keimanan,” pungkasnya.

Jadi, meski riset global itu memberi kita gambaran yang membanggakan, maknanya mungkin lebih dalam dari sekadar angka. Bisa jadi, di balik senyum dan klaim kebahagiaan itu, tersimpan sebuah kekuatan spiritual yang justru menjadi penopang utama. Sebuah perspektif yang mungkin sering terlupakan dalam debat tentang indeks kebahagiaan dan kemakmuran sebuah bangsa.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar