Di sisi lain, utangnya justru hilang. Dari sebelumnya masih ada utang Rp18 juta di 2021, di laporan berikutnya pos itu nihil. Jadi, bersih-bersih hartanya benar-benar terdongkrak.
Semua ini terjadi dalam kurun ia menjabat sebagai komisaris. Arief ditunjuk jadi Komisaris PT Bank Syariah Mandiri di 2020. Lalu, setahun setelahnya, melalui RUPSLB, ia resmi menjadi Komisaris Independen BSI. Ia mengundurkan diri dari posisi itu pada 2023, tahun yang sama ketika ia aktif kembali di politik praktis sebagai Komandan Pemilih Muda TKN Prabowo-Gibran.
Nah, sorotan publik ke dirinya sendiri berawal dari sebuah acara bedah buku. Dalam video yang beredar, Arief dengan lantang berkata:
"Jangankan benar, salah pun kita bela."
Ucapan itu langsung diserbu kritik. Banyak yang menilai itu bentuk fanatisme buta. Merespons gelombang kecaman, Arief pun angkat bicara. Ia bilang pernyataannya tidak boleh ditelan mentah-mentah.
"Sebagai anggota organisasi, saya punya kewajiban membela marwah ketua umum di publik, tetapi mengingatkan di dalam organisasi. Bang Bahlil adalah senior yang respek jika diingatkan," jelasnya.
Jadi begitulah. Di balik kontroversi pembelaannya, ternyata ada cerita lain yang muncul dari data resmi: peningkatan kekayaan yang luar biasa cepat. Kedua hal ini kini berkelindan, membentuk narasi tentang Arief Rosyid yang tak sederhana.
Artikel Terkait
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai
Dentuman Kembali di Aleppo, 22 Nyawa Melayang dalam Bentrokan
Gaji Dua Digit: Simbol Prestasi atau Jerat Kecemasan?