Tanpa arah yang jelas, kecepatan justru terasa hampa. Bisa saja kita geser cepat, naik jabatan cepat, tapi tetap merasa kosong. Yang lelah bukan badan, tapi makna di balik semua gerak itu. Kita sibuk kejar posisi, tapi lupa untuk mengerti tujuannya buat apa.
Ngomong-ngomong soal penelitian, sebuah riset di Journal of Social and Clinical Psychology nyebutin kalau perbandingan sosial yang intens terutama lewat medsos berkaitan erat dengan rasa nggak pernah cukup, cemas, dan turunnya kepuasan hidup. Intinya, rasa tertinggal yang kita rasain itu nggak selalu karena karier kita bermasalah. Bisa jadi cuma karena kita terlalu sering melihat ke kiri-kanan, lupa fokus ke jalan sendiri.
Coba bayangkan kalau kita mendefinisikan ulang arti karier. Bukan sebagai lomba lari 100 meter, tapi lebih seperti sebuah perjalanan panjang. Karier yang tumbuh sesuai kapasitas dan irama diri sendiri. Yang nggak menguras mental cuma demi terlihat "maju" di mata orang. Karier yang bergerak dengan kesadaran penuh, tahu kapan harus gaspol dan kapan perlu ngerem.
Bukan yang Paling Cepat, Tapi yang Paling Bertahan
Dalam karier macam itu, kamu nggak selalu merasa jadi pemenang. Tapi setidaknya kamu paham alasan di balik setiap langkah. Kamu nggak selalu percaya diri, tapi kamu mengerti betul apa yang sedang kamu bangun. Kamu mungkin nggak sampai duluan, tapi yang pasti, kamu nggak kehilangan jati diri di tengah jalan.
Coba renungkan sebentar: kalau hari ini kamu dipaksa mempercepat semua langkahmu, apa yang harus dikorbankan? Energi? Prinsip? Atau justru kesehatan mental?
Karier yang sehat suatu hari nanti akan membuatmu bisa bilang, "Aku mungkin belum sampai, tapi aku tahu tujuan akhirnya ke mana." Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya menenangkan. Karena ia memberikan arah. Dan arah itulah yang memberi daya tahan untuk tetap jalan.
Seringnya, yang kita butuhkan bukan pengakuan bahwa kita sudah sejauh mereka. Tapi keyakinan bahwa langkah kita hari ini sekecil apapun masih sejalan dengan tujuan hidup kita sendiri. Tanpa keyakinan itu, secepat apapun kita lari, rasa tertinggal akan selalu ngejar dari belakang.
Jadi, saat rasa tertinggal itu datang lagi, jangan buru-buru ngebut. Jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Coba berhenti dulu. Tarik napas. Lalu perjelas arah. Tanya dengan jujur: fase apa yang sedang aku jalani sekarang? Lagi belajar? Menguatkan pondasi? Atau mencoba untuk bangkit lagi?
Memang, nggak semua fase dalam karier itu terlihat glamor dan mengkilap. Tapi justru fase-fase yang sunyi dan berat itulah yang sering menentukan apakah perjalananmu akan bertahan lama, atau mentok di tengah jalan.
Karier orang lain mungkin terlihat lebih cepat. Tapi jalanmu nggak harus sama untuk jadi bermakna. Karena pada akhirnya, hidup ini bukan soal siapa yang sampai duluan. Tapi siapa yang masih utuh dan mungkin, sedikit lebih bijak ketika sampai di tujuan.
Artikel Terkait
Kemensos Siapkan Pendamping Bersertifikat untuk Program Makanan Lansia dan Disabilitas
Rudal Rusia Hantam Lviv, Ancaman Hipersonik Mengintai Perbatasan NATO
Penangkapan Maduro: Saat Hukum AS Menjadi Senjata Perang Baru
Duel Sengit di Coliseum: Getafe vs Real Sociedad Berebut Angin Segar