Video Call Berdarah: Ayah Politikus Saksikan Putranya Tewas dari Kantor

- Rabu, 07 Januari 2026 | 14:00 WIB
Video Call Berdarah: Ayah Politikus Saksikan Putranya Tewas dari Kantor

Di sebuah ruang kecil yang biasa dipakai untuk shalat di rumahnya, nasib tragis menimpa seorang anak berusia sembilan tahun. MAHM, putra politisi PKS Maman Suherman, ditemukan tewas bersimbah darah. Kejadian ini mengguncang Perumahan BBS III, Ciwaduk, Kota Cilegon, Banten.

Posisinya agak tertelungkup di lantai, tepat di depan lemari kamar. Tempat yang seharusnya penuh ketenangan itu berubah menjadi lokasi kejahatan yang mengerikan.

Maman Suherman, sang ayah, masih jelas mengingat detik-detik ia menemukan putranya. Dalam wawancaranya pada Selasa lalu, ia menggambarkan suasana saat itu.

"Saya lihat (MAHM) di depan lemari tempat dia shalat. Di situ tempat dia shalat. Di situlah dia juga dalam keadaan berbaring agak tertelungkup sedikit,"

Ceritanya berlanjut. Saat kejadian, Maman sedang bekerja di kantor. Telepon dari putranya yang lain, Dafara, mengubah segalanya. Ia menerima video call yang memperlihatkan adiknya sudah tak bernyawa dan berlumuran darah.

"Saya lagi di kantor, mendapat video call keluarga... saya melihat sendiri, bersimbah darah,"

Awalnya, pikiran buruknya hanya sebatas kecelakaan. Ia mengira anaknya jatuh dari tangga. Pikiran itu masih melekat bahkan saat ia bergegas pulang dan sampai di depan rumah.

"Ketika saya sampai di rumah, saya juga masih berasumsi dia itu jatuh dari tangga. Melihat ke tangga nggak ada, maka saya tanya, Axle di mana? Ada di atas,"

Kenyataan justru lebih kejam. Saat naik ke atas, ia melihat putra kesayangannya sudah tak bernyawa dengan luka tusuk. Naluri sebagai ayah membuatnya berusaha memberikan napas buatan, meski sia-sia. Sang anak sudah pergi.

Kini, kemarahan dan rasa keadilan yang mendorongnya. Maman dengan tegas menuntut hukuman maksimal bagi HA (31), tersangka pelaku pembunuhan anaknya.

"Seberat-beratnya hukumannya, sesuai dengan KUHP yang diterapkan saja. Ketika itu memang harus hukuman mati, laksanakan hukuman mati,"

Ia menyatakan tak akan campur tangan proses hukum. Apapun keputusannya nanti, ia serahkan sepenuhnya kepada penegak hukum. Namun nada suaranya tegas: pelaku harus dihukum seberat-beratnya.

Keyakinan bahwa HA adalah pelakunya bukan tanpa alasan. Polisi menemukan bukti kuat: DNA korban terdeteksi pada pisau milik HA. Pisau itu digunakan tersangka saat melakukan pencurian di rumah lain, setelah peristiwa pembunuhan.

"Kalau melihat dari hasil laporan... DNA-nya itu sama ya. Saya sih sangat meyakini kalau memang itu adalah pelakunya,"

Menurut penyelidikan, setelah membunuh, HA melanjutkan aksinya dengan mencuri di rumah mantan anggota DPRD Cilegon. Pencurian pertamanya berhasil, tetapi pada aksi kedua di awal Januari, ia akhirnya tertangkap. Dari situlah petunjuk penting bermunculan.

Maman mengaku menyerahkan sepenuhnya proses hukum berikutnya kepada polisi dan kejaksaan. Baginya, tindakan pelaku sudah di luar batas kemanusiaan.

Ditanya soal keamanan rumah, ia mengakui CCTV sudah lama rusak. Tapi siapa yang menyangka? Rumahnya selalu ramai dengan keluarga besar. Ia juga tak pernah menduga asisten rumah tangganya akan meninggalkan anak-anaknya sendirian saat itu. Tidak ada protokol khusus mengunci pintu-pintu dalam rumah.

Terhadap spekulasi bahwa pelaku mungkin orang dekat, Maman enggan berandai-andai. Hidupnya sederhana, klaimnya. Dari rumah ke masjid, lalu ke kantor. Begitu seterusnya. Ia merasa tidak punya musuh.

Kini, yang tersisa adalah duka dan tuntutan keadilan. Seorang ayah menunggu proses hukum berjalan, berharap pelaku mendapat ganjaran setimpal untuk perbuatan yang ia sebut "tidak berperikemanusiaan" itu.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar