Dari pertanyaan Ade Darmawan yang janggal itu, setidaknya ada tiga hal yang mencolok.
Pertama, sepertinya para pendukung Jokowi itu tak menyangka SBY dan Demokrat bakal betul-betul berani. Mereka mengira ini cuma gertakan. Mereka yang merasa paling pemberani, sementara lawan dianggap takut untuk bertindak tegas.
Kedua, mereka baru “ngeper” ketika berhadapan dengan konsekuensi hukum. Tiba-tiba ingat kalau mereka satu koalisi. Padahal sebelumnya, siapa pun yang dianggap menghalangi laju Gibran langsung dicap musuh. Mereka mungkin lupa, atau sengaja melupakan, bahwa Jokowi bukan lagi presiden. Posisi Gibran adalah wakil presiden. Ya, wapres.
Ketiga, kepercayaan diri mereka terlihat begitu tinggi. Bahkan berlebihan. Rasa bersalah? Itu tidak ada. Yang salah pasti pihak lain. Ketika SBY dan Demokrat membela diri, malah dituduh salah langkah. “Kenapa hukum? Kenapa bukan politik?” Giliran menyerang, lupa ada ikatan koalisi. Giliran dibalas, baru ingat. Dasar!
Artikel Terkait
Truk Gandeng Melaju Liar, Nyawa Pengendara Motor Melayang di Bondowoso
Peringkat Naik, Tapi Laut Indonesia Masih Rapuh untuk Nelayan Kecil
Bus Besar dan Jalan Sempit: Kemacetan Kronis Kembali Paralyze Sawangan
Pengkhianat dalam Barisan: Saat Aktivis Antipalsu Bertandang ke Istana