Tompi dan Mahakarya Banyak Upaya di Tengah Bencana

- Rabu, 07 Januari 2026 | 10:50 WIB
Tompi dan Mahakarya Banyak Upaya di Tengah Bencana

Saat Realita Bencana Disapu Bersih oleh Narasi "Banyak Upaya"

Ada konsep dalam public relations yang disebut "engineering of consent", atau kalau diterjemahkan bebas: merekayasa persetujuan. Di Indonesia, kita sepertinya sedang menyaksikan varian yang lebih aneh. Bisa kita sebut sebagai "rekayasa persepsi lewat cerita selebritas". Fenomenanya jelas. Baru-baru ini, usai bertemu Presiden, musisi Tompi tampil dengan wajah penuh percaya diri. Ia menyatakan pemerintah sudah melakukan "banyak sekali upaya" untuk menangani bencana di Sumatera.

Pernyataannya itu, jujur saja, adalah sebuah mahakarya komunikasi krisis ala kita. Metrik yang seharusnya dipakai seberapa banyak korban tertolong, infrastruktur yang dipulihkan, ketepatan logistik seolah diganti dengan metrik baru: testimoni pesohor. Ini bukan strategi yang baru, lho. Ini ritual yang klise. Setiap kali jarak antara penderitaan di lapangan dan narasi resmi melebar terlalu jauh, tokoh publik dihadirkan sebagai "jembatan".

Namun begitu, fungsinya seringkali bukan untuk menjembatani, melainkan mengaburkan.

Di sinilah paradoksnya muncul. Masyarakat yang terdampak merasakan sekali jurang respons yang dalam. Sementara itu, di tempat lain, daftar "upaya" dikurasi dan disampaikan. Bukan lewat konferensi pers yang transparan, tapi lewat lensa seorang artis. Pesannya terselubung: yang penting bukan lagi bukti di lapangan, tapi siapa yang bilang bahwa "banyak upaya telah dilakukan". Ini semacam "celebrity-washing" dalam tata kelola pemerintahan. Mengecat kegagapan birokrasi dengan kuas ketenaran.

Kalau dianalisis, ini mirip gejala "Political PR Cannibalism". Pemerintah seakan memakan kredibilitas selebritas untuk menutupi defisit kredibilitasnya sendiri. Tompi, dengan modal simbolisnya sebagai musisi sekaligus dokter, dipinjam. Bukan sebagai ahli mitigasi bencana, tapi sebagai saksi karakter di pengadilan opini publik. Risikonya jelas: erosi kepercayaan bisa berlapis. Publik mulai mempertanyakan bukan cuma kemampuan pemerintah, tapi juga sikap kritis para figur publik itu sendiri.


Halaman:

Komentar