Presiden Baru Venezuela Bantah Klaim Trump: Kami yang Berkuasa, Bukan AS

- Rabu, 07 Januari 2026 | 10:06 WIB
Presiden Baru Venezuela Bantah Klaim Trump: Kami yang Berkuasa, Bukan AS

Udara di Caracas masih terasa tegang. Tiga hari setelah operasi militer AS yang dramatis menangkap mantan pemimpin Nicolas Maduro, Presiden baru Venezuela, Delcy Rodriguez, angkat bicara. Dengan tegas ia membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Washington kini "menguasai" Venezuela. Bagi Rodriguez, kendali tetap berada di tangan pemerintahannya, bukan di tangan kekuatan asing manapun.

"Pemerintah Venezuela yang mengendalikan negara ini, bukan pihak lain," tegas Rodriguez, seperti dilaporkan AFP.

Ia menambahkan, "Tidak ada agen asing lain yang memerintah Venezuela."

Pernyataan keras ini sekaligus menunjukkan sikap ambivalennya. Di satu sisi, Rodriguez terlihat membuka pintu untuk kemungkinan kerja sama dengan Washington. Namun begitu, ia juga harus menjaga dukungan dari kelompok garis keras di dalam negeri, terutama yang punya pengaruh kuat di tubuh militer. Sebuah keseimbangan yang sulit.

Klaim Trump sendiri sebelumnya cukup bombastis. Ia menyatakan AS kini "bertanggung jawab" atas Venezuela. Tapi, dia juga memberi sinyal bahwa kerja sama dengan pemerintahan baru bisa saja terjadi. Syaratnya? Akses ke cadangan minyak Venezuela yang sangat besar itu.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump bahkan menyebut angka yang terang-terangan. Menurutnya, otoritas baru di Caracas akan menyerahkan 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi kepada Amerika.

Di tengah semua pernyataan politik itu, suasana duka menyelimuti Venezuela. Pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari. Untuk pertama kalinya, militer mengonfirmasi korban jiwa dari pihak mereka. Daftar yang dirilis menyebut 23 personel tewas, termasuk lima jenderal, akibat serangan AS tersebut.

Korban juga berjatuhan di pihak sekutu. Kuba, yang merupakan pendukung dekat Maduro, melaporkan 32 personel militernya gugur. Sebagian besar dari mereka disebut-sebut adalah anggota pengawal pribadi mantan presiden itu.

Sementara itu, korban di kalangan warga sipil masih menjadi tanda tanya. Hingga kini belum ada data resmi yang dirilis pemerintah. Jaksa Agung Tarek William Saab hanya menyebutkan ada puluhan korban dari kalangan sipil dan militer, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Situasinya masih suram, dan jalan ke depan terlihat panjang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar