Operasi Penangkapan Maduro: Ketika Narasi Jadi Senjata Sebelum Helikopter Mendarat

- Rabu, 07 Januari 2026 | 09:00 WIB
Operasi Penangkapan Maduro: Ketika Narasi Jadi Senjata Sebelum Helikopter Mendarat

Operasi militer di Caracas awal Januari 2026 itu berlangsung cepat. Dalam hitungan jam, Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, sudah ditahan. Tapi, jauh sebelum helikopter dan pasukan khusus AS mendarat, perang narasi sudah lebih dulu dimulai. Pemerintah Amerika Serikat, dengan gencar, membangun sebuah cerita untuk melegitimasi aksi kontroversial ini di mata publik mereka sendiri dan dunia.

Di sinilah teori 'framing' atau pembingkaian dari Robert Entman terasa relevan. Intinya, framing adalah seni memilih dan menyoroti bagian tertentu dari sebuah realitas, lalu mengemasnya sedemikian rupa agar orang melihatnya dari sudut pandang si pembuat pesan. Entman bilang, ada empat unsur kunci: mendefinisikan masalah, mencari kambing hitam, memberi penilaian moral, dan akhirnya menawarkan solusi.

Nah, AS menerapkan resep ini dengan cukup rapi. Masalahnya didefinisikan sebagai "ancaman narkoba dari kartel yang dipimpin Maduro". Penyebab utamanya, ya Maduro sendiri. Lalu, dia dinilai sebagai penjahat moral yang meracuni generasi muda Amerika. Solusinya? Penangkapan. Itulah satu-satunya jalan hukum yang adil.

Pernyataan resmi dari Gedung Putih, Departemen Luar Negeri, dan Kejaksaan Agung terus mengulang narasi yang sama. Mereka menegaskan ini murni "penegakan hukum", bukan invasi, berdasarkan dakwaan narco-terrorism yang sudah menggantung sejak 2020.

"Ini adalah kemenangan untuk keadilan dan rakyat Venezuela yang menderita," ujar Presiden Donald Trump dalam sebuah konferensi pers di Mar-a-Lago.

Sekretaris Negara Marco Rubio menambahkan, "Rezim ini sudah lama menjadi kanker. Hari ini, kita mengangkat kanker itu."

Foto Maduro dalam tahanan yang dibagikan Trump di media sosial, serta janji muluk untuk "membangun kembali Venezuela", termasuk sektor minyaknya yang kaya, menyempurnakan bingkai itu: sebuah aksi heroik melawan kejahatan terorganisir.

Dan strategi komunikasi itu cukup ampuh, setidaknya di dalam negeri. Dukungan publik AS relatif kuat. Komunitas diaspora Venezuela di Miami dan tempat lain pun ramai merayakannya di jalan-jalan. Media arus utama Barat, secara umum, mengamplifikasi versi cerita ini. Oposisi Venezuela di pengasingan juga menyambut baik.

Maria Corina Machado, salah satu tokoh oposisi, menyebut momen itu sebagai "awal dari kebebasan".

Tapi, narasi AS tidak lantas mendominasi panggung global. Di sisi lain, reaksinya justru keras. Rusia dan China, misalnya, dengan tegas menyebutnya sebagai "agresi imperialis" yang melanggar kedaulatan negara. Kuba dan sejumlah negara Amerika Latin ikut mengutuk. Suara dunia terbelah, memperlihatkan sebuah kenyataan pahit: di era multipolar seperti sekarang, sulit bagi satu kekuatan untuk mengendalikan cerita sepenuhnya.

Pada akhirnya, krisis Venezuela 2026 ini adalah pelajaran mahal. Ia menunjukkan betapa komunikasi publik, lewat pembingkaian yang cerdas dan saluran digital yang cepat, telah menjadi alat legitimasi yang tak kalah penting dari kekuatan senjata. Kekuatan sejati di abad informasi mungkin bukan hanya siapa yang punya tentara terkuat, tapi siapa yang paling piawai menceritakan kisahnya kepada dunia.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar