Angin sore di Jakarta terasa lembap dan berat. Tepat di seberang gedung putih Kedutaan Besar Amerika Serikat, tangan-tangan mulai mengangkat spanduk. Suara-suara menggema, meski tenggorokan terasa kering. Tanggal 6 Januari 2026. Nama Venezuela disebut bukan sebagai berita dari belahan dunia lain, tapi seperti luka yang akrab. Ribuan mil dari Caracas, sekelompok orang Indonesia berkumpul. Mereka bukan politisi. Mereka aktivis, buruh, ibu-ibu, anak muda. Mereka punya cerita panjang tentang apa artinya melawan.
Pukul tiga, kerumunan sudah padat. Orator bergantian naik. Kata-kata yang terlontar tajam dan tanpa basa-basi. Di spanduk putih, tulisan hitam menuntut: "Hentikan Serangan Militer Amerika Serikat. Hormati Kedaulatan Politik Rakyat Venezuela."
Menurut dokumen yang mereka bagikan, aksi ini adalah bentuk kecaman keras. Mereka menuding pemerintahan Donald Trump melancarkan serangan militer, menculik Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya Cilia Flores, dan berencana mengambil alih kekuasaan. Bagi mereka, ini bukan pelanggaran politik biasa. Ini pengingkaran terang-terangan terhadap Piagam PBB, terhadap prinsip paling dasar tentang perdamaian dan hak sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Seorang perempuan dari Perempuan Mahardhika, yang enggan namanya disebut, bercerita dengan tatapan kosong menerawang.
"Kami lahir dari rahim perjuangan yang sama. Melawan kolonialisme, melawan imperialisme," ujarnya.
Dia mengingatkan pada Konferensi Asia Afrika 1955 yang digagas Indonesia. Forum itu, katanya, adalah bukti nyata komitmen bangsa-bangsa terjajah untuk menolak dominasi asing. Venezuela hari ini, dalam pandangan mereka, adalah cermin dari Indonesia di masa lalu. Embargo, agresi militer, campur tangan politik semua itu bentuk kekerasan struktural yang dulu juga merobek-robek kedaulatan negeri ini.
Dukungan untuk aksi ini datang dari mana-mana. Jaringannya luas. Ada Seruni, Marsinah.ID, JALA PRT, KPBI, World March of Women Indonesia, sampai serikat buruh internasional macam Building and Wood Workers International. Mereka bersatu dalam tiga tuntutan inti: kecam agresi AS, bebaskan Maduro dan istrinya, dan desak PBB untuk bertindak tegas. Tuntutan ini tak cuma diteriakkan di Jakarta, tapi ingin didengar di forum-forum global.
Di bagian bawah dokumen, tercantum tiga nama beserta nomor telepon: Mutiara Ika, Dian Septi, Sari Wijaya. Mereka jadi penghubung antara aksi di jalanan dan gelombang informasi di dunia digital. Di era dimana berita menyebar dalam hitungan menit, dokumen ini dirancang untuk dibagikan, di-capture, dan jadi bahan diskusi online. Isu kedaulatan versus intervensi, semangat anti-imperialisme, dan solidaritas Global Selatan memang bahan bakar yang mudah menyulut perhatian netizen yang lelah dengan narasi arus utama.
Aksi itu bubar sebelum azan maghrib berkumandang. Spanduk digulung, mikrofon dimatikan. Tapi pernyataan sikapnya tetap hidup. Ia menyebar dari grup WhatsApp ke utasan Twitter, dari Instagram story ke forum diskusi kampus. Pesannya sederhana tapi punya bobot: rakyat Venezuela punya hak penuh untuk tentukan masa depannya, tanpa intervensi militer atau tekanan dari kekuatan imperialis manapun.
Ini lebih dari sekadar dukungan untuk negara jauh. Ini pengingat untuk Indonesia sendiri tentang prinsip yang dulu diperjuangkan dengan taruhan yang tidak kecil. Bahwa kedaulatan itu bukan hadiah, tapi harga mati yang harus dijaga baik di dalam negeri sendiri, maupun dengan bersuara lantang untuk saudara-saudara yang jauh.
Ceritanya tak berakhir di trotoar Jakarta hari itu. Ini cuma satu bab dari buku panjang perlawanan terhadap hegemoni. Setiap tanda tangan di dokumen, setiap organisasi pendukung, setiap teriakan yang dikumandangkan, adalah benang yang mengaitkan nasib satu rakyat dengan rakyat lainnya. Pada 6 Januari 2026 itu, Venezuela mungkin jadi headline. Tapi pesan yang lebih dalam adalah tentang ingatan kolektif. Ingatan akan penderitaan dijajah, ingatan akan perlawanan, dan keyakinan bahwa di dunia yang makin terhubung, solidaritas tetap jadi bahasa universal yang paling jernih. Dan bahasa itu, seperti dibuktikan oleh orang-orang di depan Kedubes AS sore itu, masih fasih diucapkan di sini.
Artikel Terkait
Tes Urine Massal di Polres Jakarta Pusat, Satu Personel Positif Codeine karena Obat Batuk
BMKG Peringatkan Hujan Lebat Berpotensi Banjir dan Longsor di Sulsel
Kementan Pantau Pasokan dan Harga Daging-Telur Jelang Lebaran, Kondisi Umum Stabil
Air Terjun Kali Jodoh di Pinrang: Pesona Alam dan Mitos Pencarian Jodoh yang Ramai Dikunjungi