Dukungan untuk aksi ini datang dari mana-mana. Jaringannya luas. Ada Seruni, Marsinah.ID, JALA PRT, KPBI, World March of Women Indonesia, sampai serikat buruh internasional macam Building and Wood Workers International. Mereka bersatu dalam tiga tuntutan inti: kecam agresi AS, bebaskan Maduro dan istrinya, dan desak PBB untuk bertindak tegas. Tuntutan ini tak cuma diteriakkan di Jakarta, tapi ingin didengar di forum-forum global.
Di bagian bawah dokumen, tercantum tiga nama beserta nomor telepon: Mutiara Ika, Dian Septi, Sari Wijaya. Mereka jadi penghubung antara aksi di jalanan dan gelombang informasi di dunia digital. Di era dimana berita menyebar dalam hitungan menit, dokumen ini dirancang untuk dibagikan, di-capture, dan jadi bahan diskusi online. Isu kedaulatan versus intervensi, semangat anti-imperialisme, dan solidaritas Global Selatan memang bahan bakar yang mudah menyulut perhatian netizen yang lelah dengan narasi arus utama.
Aksi itu bubar sebelum azan maghrib berkumandang. Spanduk digulung, mikrofon dimatikan. Tapi pernyataan sikapnya tetap hidup. Ia menyebar dari grup WhatsApp ke utasan Twitter, dari Instagram story ke forum diskusi kampus. Pesannya sederhana tapi punya bobot: rakyat Venezuela punya hak penuh untuk tentukan masa depannya, tanpa intervensi militer atau tekanan dari kekuatan imperialis manapun.
Ini lebih dari sekadar dukungan untuk negara jauh. Ini pengingat untuk Indonesia sendiri tentang prinsip yang dulu diperjuangkan dengan taruhan yang tidak kecil. Bahwa kedaulatan itu bukan hadiah, tapi harga mati yang harus dijaga baik di dalam negeri sendiri, maupun dengan bersuara lantang untuk saudara-saudara yang jauh.
Ceritanya tak berakhir di trotoar Jakarta hari itu. Ini cuma satu bab dari buku panjang perlawanan terhadap hegemoni. Setiap tanda tangan di dokumen, setiap organisasi pendukung, setiap teriakan yang dikumandangkan, adalah benang yang mengaitkan nasib satu rakyat dengan rakyat lainnya. Pada 6 Januari 2026 itu, Venezuela mungkin jadi headline. Tapi pesan yang lebih dalam adalah tentang ingatan kolektif. Ingatan akan penderitaan dijajah, ingatan akan perlawanan, dan keyakinan bahwa di dunia yang makin terhubung, solidaritas tetap jadi bahasa universal yang paling jernih. Dan bahasa itu, seperti dibuktikan oleh orang-orang di depan Kedubes AS sore itu, masih fasih diucapkan di sini.
Artikel Terkait
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini