Maria Ulfah Anshor: Kepemimpinan Perempuan Butuh Nurani, Bukan Hanya Kuota

- Selasa, 06 Januari 2026 | 15:50 WIB
Maria Ulfah Anshor: Kepemimpinan Perempuan Butuh Nurani, Bukan Hanya Kuota

"Sudah 22 tahun, angkanya masih di bawah 22 persen," ungkapnya dengan nada kecewa.

Ia memberi contoh nyata: di Komisi VIII DPR periode sekarang yang membidangi urusan perempuan, dari ketua sampai wakil-wakilnya semuanya laki-laki. Baginya, ini cerminan budaya yang masih memandang kepemimpinan sebagai wilayah kaum adam.

Di tengah kenyataan itu, Maria menawarkan sebuah paradigma alternatif. Ia membayangkan model kepemimpinan kolektif-kolegial yang lebih mengedepankan kolaborasi dan partisipasi, alih-alih kompetisi yang saling menjatuhkan.

"Dalam konteks kepemimpinan perempuan, yang kita bangun adalah kesalingan: saling mendukung, saling membesarkan, saling mensejahterakan, saling membahagiakan. Bukan kompetisi yang membuat orang saling sikut," tegasnya lagi.

Dukungan sistem, terutama dari keluarga dan pasangan, ia anggap sebagai fondasi yang tak tergantikan agar perempuan bisa menjalankan peran kepemimpinannya dengan maksimal.

Sebagai role model, Maria menyebut nama Prof. Dr. Saparinah Sadli, pendiri Komnas Perempuan. Sosok yang dianggapnya sangat inspiratif.

"Beliau konsisten dengan isu yang dibawakan, tidak pindah jalur. Dari mendirikan kajian gender di UI, lalu Komnas Perempuan di 1998, sampai usia 80-an masih bisa menulis artikel dan berbicara di berbagai forum dengan sangat terstruktur," kenang Maria.


Halaman:

Komentar