Maria Ulfah Anshor: Kepemimpinan Perempuan Butuh Nurani, Bukan Hanya Kuota

- Selasa, 06 Januari 2026 | 15:50 WIB
Maria Ulfah Anshor: Kepemimpinan Perempuan Butuh Nurani, Bukan Hanya Kuota

Maria Ulfah Anshor punya pandangan yang jelas tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin perempuan memimpin. Bagi Ketua Komnas Perempuan ini, kuncinya ada di hati. Nurani. Tapi jangan salah paham, memimpin dengan hati sama sekali bukan berarti mengabaikan logika dan analisa yang tajam.

"Memimpin dengan hati bukan berarti menjadi tidak logis," tegas Maria dalam sebuah wawancara di kanal YouTube resmi Komnas Perempuan, Selasa lalu.

"Hati itu lebih luas, lebih lapang areanya dibanding memimpin hanya dengan otak," lanjutnya.

Menurutnya, kepemimpinan yang dilandasi nurani justru lebih komprehensif. Ia mencakup empati dan kepedulian yang mendalam terhadap orang lain, namun tetap berpijak pada argumentasi yang kuat dan konsep yang matang. Maria, yang juga pernah duduk di DPR dan memimpin KPAI, paham betul bahwa rasionalitas dan perasaan bukanlah dua hal yang bertolak belakang.

Namun begitu, jalan menuju puncak kepemimpinan bagi perempuan masih terjal. Maria menyoroti hambatan berlapis yang harus dihadapi, mulai dari lingkup paling privat hingga struktur yang paling formal.

"Hambatan itu tidak hanya di level makro tetapi juga di level terdekat dengan kita, yaitu keluarga," ujarnya.

Beban ganda, urusan pengasuhan anak, dan pekerjaan domestik yang masih kerap dibebankan pada perempuan menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi fenomena "glass ceiling" atau langit-langit kaca yang meski tak kasat mata, nyata adanya dan menghalangi banyak perempuan untuk meraih posisi puncak.

Di ranah politik, realitanya juga tak lebih menggembirakan. Maria menyayangkan implementasi kuota 30 persen kursi untuk perempuan di parlemen yang mandek. Aturan itu sudah ada sejak 2003, tapi nyatanya?

"Sudah 22 tahun, angkanya masih di bawah 22 persen," ungkapnya dengan nada kecewa.

Ia memberi contoh nyata: di Komisi VIII DPR periode sekarang yang membidangi urusan perempuan, dari ketua sampai wakil-wakilnya semuanya laki-laki. Baginya, ini cerminan budaya yang masih memandang kepemimpinan sebagai wilayah kaum adam.

Di tengah kenyataan itu, Maria menawarkan sebuah paradigma alternatif. Ia membayangkan model kepemimpinan kolektif-kolegial yang lebih mengedepankan kolaborasi dan partisipasi, alih-alih kompetisi yang saling menjatuhkan.

"Dalam konteks kepemimpinan perempuan, yang kita bangun adalah kesalingan: saling mendukung, saling membesarkan, saling mensejahterakan, saling membahagiakan. Bukan kompetisi yang membuat orang saling sikut," tegasnya lagi.

Dukungan sistem, terutama dari keluarga dan pasangan, ia anggap sebagai fondasi yang tak tergantikan agar perempuan bisa menjalankan peran kepemimpinannya dengan maksimal.

Sebagai role model, Maria menyebut nama Prof. Dr. Saparinah Sadli, pendiri Komnas Perempuan. Sosok yang dianggapnya sangat inspiratif.

"Beliau konsisten dengan isu yang dibawakan, tidak pindah jalur. Dari mendirikan kajian gender di UI, lalu Komnas Perempuan di 1998, sampai usia 80-an masih bisa menulis artikel dan berbicara di berbagai forum dengan sangat terstruktur," kenang Maria.

Konsistensi dan komitmen semacam itulah yang ingin diwariskan. Ke depan, Komnas Perempuan di bawah kepemimpinannya akan fokus pada penguatan kelembagaan dan kepemimpinan perempuan sebagai program utama periode 2025-2030. Pendekatannya tetap sama: kolektif dan inklusif.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar