Maria Ulfah Anshor punya pandangan yang jelas tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin perempuan memimpin. Bagi Ketua Komnas Perempuan ini, kuncinya ada di hati. Nurani. Tapi jangan salah paham, memimpin dengan hati sama sekali bukan berarti mengabaikan logika dan analisa yang tajam.
"Memimpin dengan hati bukan berarti menjadi tidak logis," tegas Maria dalam sebuah wawancara di kanal YouTube resmi Komnas Perempuan, Selasa lalu.
"Hati itu lebih luas, lebih lapang areanya dibanding memimpin hanya dengan otak," lanjutnya.
Menurutnya, kepemimpinan yang dilandasi nurani justru lebih komprehensif. Ia mencakup empati dan kepedulian yang mendalam terhadap orang lain, namun tetap berpijak pada argumentasi yang kuat dan konsep yang matang. Maria, yang juga pernah duduk di DPR dan memimpin KPAI, paham betul bahwa rasionalitas dan perasaan bukanlah dua hal yang bertolak belakang.
Namun begitu, jalan menuju puncak kepemimpinan bagi perempuan masih terjal. Maria menyoroti hambatan berlapis yang harus dihadapi, mulai dari lingkup paling privat hingga struktur yang paling formal.
"Hambatan itu tidak hanya di level makro tetapi juga di level terdekat dengan kita, yaitu keluarga," ujarnya.
Beban ganda, urusan pengasuhan anak, dan pekerjaan domestik yang masih kerap dibebankan pada perempuan menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi fenomena "glass ceiling" atau langit-langit kaca yang meski tak kasat mata, nyata adanya dan menghalangi banyak perempuan untuk meraih posisi puncak.
Di ranah politik, realitanya juga tak lebih menggembirakan. Maria menyayangkan implementasi kuota 30 persen kursi untuk perempuan di parlemen yang mandek. Aturan itu sudah ada sejak 2003, tapi nyatanya?
Artikel Terkait
Atletico Madrid Hadapi Club Brugge di Laga Penentu Tiket 16 Besar Liga Champions
Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Jadi Tersangka Kasus Kekerasan Seksual
Debt Collector di Metro Diamankan, Diduga Gelapkan Mobil Debitur Rp285 Juta
Mentan Ancam Alihkan Anggaran Daerah yang Tak Serius Cetak Sawah