Langkah itu tentu saja bikin gemas. Bukan cuma perusahaan-perusahaan minyak itu yang marah, tapi juga negara-negara Barat yang kepentingan ekonominya terusik. Mereka merasa akses terhadap sumber daya alam Venezuela yang strategis itu tiba-tiba terancam.
Kemarahan AS tidak luntur meski Chávez sudah tiada. Nicolás Maduro, sang penerus, justru melanjutkan kebijakan yang sama. Alih-alih mereda, tekanan malah bertambah. Untuk memperkuat posisinya di mata dunia, Amerika kemudian melontarkan sederet tuduhan ke pemerintah Venezuela. Mulai dari korupsi sistematis, kecurangan pemilu, pelanggaran HAM, sampai keterlibatan dalam bisnis narkoba.
Atas dasar tuduhan itulah, sanksi ekonomi dikenakan. Secara resmi, tujuannya untuk mendorong reformasi demokrasi dan penghormatan HAM. Tapi, bagi banyak pengamat, alasan itu cuma kedok belaka.
Intinya sederhana: Amerika menginginkan pemerintahan di Caracas yang patuh pada arahan Washington. Jika itu terwujud, AS bisa kembali leluasa mengeruk keuntungan dari minyak dan segala kekayaan alam Venezuela yang melimpah itu. Sanksi, dalam sudut pandang ini, hanyalah alat penekan untuk mencapai tujuan geopolitik dan ekonomi itu.
Artikel Terkait
Motor Terbakar di Tengah Perempatan Maros, Keluarga Selamat
Iran Ajukan Prasyarat Keras Jelang Pembicaraan dengan AS di Islamabad
Bank Dunia: Ekspor Komoditas dan Subsidi BBM Jadi Bantalan Ekonomi Indonesia
Anggota DPR Desak Polri Tindak Tegas Premanisme Usai Kasus Pengeroyokan di Purwakarta