Anggaran yang digadang-gadang untuk membangun masjid baru itu tidak main-main: Rp 1,8 miliar. Sebuah angka yang cukup fantastis bagi warga.
“Iya, biayanya memang tinggi. Rencananya kami mau mulai bangun setelah Lebaran. Masjidnya akan kami buat lebih besar, dengan perkiraan dana sekitar Rp 1,8 miliar itu,” kata Budi menerangkan.
Janji itulah yang akhirnya membuat warga sepakat merobohkan bangunan lama. Sayangnya, donatur yang awalnya begitu bersemangat, hanya meninggalkan puing dan hutang janji.
Bangkit dari Puing, Tanpa Bantuan Hukum
Dengan kondisi masjid yang sudah terlanjur rata, warga Gari memilih untuk tidak berpangku tangan. Mereka kini berjuang sendiri, menggalang dana dari mana pun untuk membangun kembali tempat ibadah mereka.
“Sekarang kami mulai bikin fondasi talud. Sedikit demi sedikit lah. Dana yang terkumpul sejauh ini langsung kami gunakan untuk bergerak,” tutur Budi, mencoba bersikap optimistis.
Menariknya, meski merasa jelas-jelas dibohongi, warga tak berniat melaporkan kasus ini ke polisi. Mereka lebih memilih fokus pada upaya membangun kembali, daripada terjerumus dalam proses hukum yang berbelit. Sebuah keputusan yang mungkin sulit dimengerti banyak orang, tapi itulah pilihan mereka.
Artikel Terkait
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini