Anggaran yang digadang-gadang untuk membangun masjid baru itu tidak main-main: Rp 1,8 miliar. Sebuah angka yang cukup fantastis bagi warga.
“Iya, biayanya memang tinggi. Rencananya kami mau mulai bangun setelah Lebaran. Masjidnya akan kami buat lebih besar, dengan perkiraan dana sekitar Rp 1,8 miliar itu,” kata Budi menerangkan.
Janji itulah yang akhirnya membuat warga sepakat merobohkan bangunan lama. Sayangnya, donatur yang awalnya begitu bersemangat, hanya meninggalkan puing dan hutang janji.
Bangkit dari Puing, Tanpa Bantuan Hukum
Dengan kondisi masjid yang sudah terlanjur rata, warga Gari memilih untuk tidak berpangku tangan. Mereka kini berjuang sendiri, menggalang dana dari mana pun untuk membangun kembali tempat ibadah mereka.
“Sekarang kami mulai bikin fondasi talud. Sedikit demi sedikit lah. Dana yang terkumpul sejauh ini langsung kami gunakan untuk bergerak,” tutur Budi, mencoba bersikap optimistis.
Menariknya, meski merasa jelas-jelas dibohongi, warga tak berniat melaporkan kasus ini ke polisi. Mereka lebih memilih fokus pada upaya membangun kembali, daripada terjerumus dalam proses hukum yang berbelit. Sebuah keputusan yang mungkin sulit dimengerti banyak orang, tapi itulah pilihan mereka.
Artikel Terkait
Pertamina Enduro Juara Proliga Usai Drama Lima Set Melawan PLN
Stuttgart Hajar Hamburg 4-0 dalam Dominasi Mutlak di Bundesliga
Satgas Cartenz 2026 Ungkap Ladang Ganja 226 Batang di Pegunungan Bintang
IHSG Melonjak 2,07%, Catat Kenaikan Mingguan Lebih dari 6%