Lewat kanal YouTube-nya, Senin lalu, Prof. Amien Rais melontarkan kritik yang cukup tajam. Sasaran utamanya? Presiden Prabowo Subianto. Menurut Ketua Majelis Syura Partai Ummat itu, kepemimpinan Prabowo dinilai masih belum bisa lepas dari bayang-bayang dan pengaruh mantan Presiden Joko Widodo. Sorotan khususnya jatuh pada bagaimana penanganan institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Dalam video yang berdurasi sekitar 13 menit itu, Amien tak sungkan menyebut Prabowo, yang telah menjabat lebih dari 15 bulan sejak Oktober 2024, belum menjadi "presiden sungguhan".
"Anda belum jadi presiden sungguhan. Tim percepatan reformasi Polri ternyata tidak bisa apa-apa," ujar politisi senior tersebut dengan nada tegas.
Ia kemudian mengangkat sebuah kesan yang beredar di publik. Menurutnya, ada persepsi kuat bahwa presiden justru kalah pamor dan wibawa dibandingkan dengan Kapolri. "Ini bisa benar, bisa keliru, tapi kesan itu sangat kuat," tegas Amien, seolah menggambarkan sebuah kegelisahan yang sedang membara.
Pertanyaan kritisnya kemudian tertuju pada pucuk pimpinan Polri. Amien mempertanyakan mengapa Prabowo membiarkan Jenderal Listyo Sigit Prabowo tetap menjabat sebagai Kapolri, padahal masa jabatannya sudah hampir mencapai lima tahun. Dengan diksi yang terang, Amien menyebut Listyo sebagai sosok yang "tidak tahu malu" karena dianggap melompati lima perwira tinggi polisi yang lebih senior saat pengangkatannya dulu.
Tak cuma itu, ia juga menyelipkan cerita soal kemarahan Megawati Soekarnoputri. Sang mantan presiden konon ingin bertemu Listyo, namun tak kunjung mendapat jawaban, bahkan saat ia bersedia datang sendiri ke Markas Besar Polri.
Namun begitu, kritik paling inti dari Amien adalah soal kedekatan Prabowo dengan lingkaran Jokowi. Ia menyampaikan kekhawatirannya dengan lugas.
"Saya punya kesan, mudah-mudahan saya salah Mas Prabowo, Anda itu belum berani berpisah jalan dengan geng Jokowi," katanya.
Istilah "geng Jokowi" itu sengaja ia pakai, bukan "geng Solo", meski ada usulan dari beberapa tokoh asal Solo. Bagi Amien, selama hubungan ini terus berlanjut dan Kapolri dinilai tidak tegak lurus kepada presiden, maka Prabowo berisiko menghadapi "fiasco" atau kegagalan total.
Artikel Terkait
Kritik Fufufafa dan Pandji, Tapi Bungkam pada Aksi Pembantu Presiden?
Operasi Penangkapan Maduro: Ketika Narasi Jadi Senjata Sebelum Helikopter Mendarat
Rizal Fadillah Tantang Polri: Buktikan Keaslian Ijazah Jokowi dengan Uji Forensik Terbuka
Manohara Tegas Tolak Label Mantan Istri, Minta Media Hentikan Narasi Keliru