Amien Rais Tantang Prabowo: Anda Belum Jadi Presiden Sungguhan

- Senin, 05 Januari 2026 | 19:00 WIB
Amien Rais Tantang Prabowo: Anda Belum Jadi Presiden Sungguhan

Lewat kanal YouTube-nya, Senin lalu, Prof. Amien Rais melontarkan kritik yang cukup tajam. Sasaran utamanya? Presiden Prabowo Subianto. Menurut Ketua Majelis Syura Partai Ummat itu, kepemimpinan Prabowo dinilai masih belum bisa lepas dari bayang-bayang dan pengaruh mantan Presiden Joko Widodo. Sorotan khususnya jatuh pada bagaimana penanganan institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Dalam video yang berdurasi sekitar 13 menit itu, Amien tak sungkan menyebut Prabowo, yang telah menjabat lebih dari 15 bulan sejak Oktober 2024, belum menjadi "presiden sungguhan".

"Anda belum jadi presiden sungguhan. Tim percepatan reformasi Polri ternyata tidak bisa apa-apa," ujar politisi senior tersebut dengan nada tegas.

Ia kemudian mengangkat sebuah kesan yang beredar di publik. Menurutnya, ada persepsi kuat bahwa presiden justru kalah pamor dan wibawa dibandingkan dengan Kapolri. "Ini bisa benar, bisa keliru, tapi kesan itu sangat kuat," tegas Amien, seolah menggambarkan sebuah kegelisahan yang sedang membara.

Pertanyaan kritisnya kemudian tertuju pada pucuk pimpinan Polri. Amien mempertanyakan mengapa Prabowo membiarkan Jenderal Listyo Sigit Prabowo tetap menjabat sebagai Kapolri, padahal masa jabatannya sudah hampir mencapai lima tahun. Dengan diksi yang terang, Amien menyebut Listyo sebagai sosok yang "tidak tahu malu" karena dianggap melompati lima perwira tinggi polisi yang lebih senior saat pengangkatannya dulu.

Tak cuma itu, ia juga menyelipkan cerita soal kemarahan Megawati Soekarnoputri. Sang mantan presiden konon ingin bertemu Listyo, namun tak kunjung mendapat jawaban, bahkan saat ia bersedia datang sendiri ke Markas Besar Polri.

Namun begitu, kritik paling inti dari Amien adalah soal kedekatan Prabowo dengan lingkaran Jokowi. Ia menyampaikan kekhawatirannya dengan lugas.

"Saya punya kesan, mudah-mudahan saya salah Mas Prabowo, Anda itu belum berani berpisah jalan dengan geng Jokowi," katanya.

Istilah "geng Jokowi" itu sengaja ia pakai, bukan "geng Solo", meski ada usulan dari beberapa tokoh asal Solo. Bagi Amien, selama hubungan ini terus berlanjut dan Kapolri dinilai tidak tegak lurus kepada presiden, maka Prabowo berisiko menghadapi "fiasco" atau kegagalan total.

Di sisi lain, Amien turut menyoroti persoalan anggaran. Anggaran Polri di APBN 2025 membengkak hingga Rp136 triliun, menjadi yang tertinggi kedua setelah Kementerian Pertahanan. Angka ini melonjak signifikan dari Rp98,1 triliun di tahun 2018. Disparitas ini memantik pertanyaan mendasar.

"Kalau saya jadi pimpinan TNI atau anggota TNI, saya bertanya mengapa TNI lebih kecil anggarannya dibandingkan Polri," ujarnya, menyiratkan sebuah ketimpangan yang perlu dijawab.

Dalam paparannya, Amien juga menguraikan lima pilar kekuasaan di Indonesia: Presiden, TNI, Polri, Badan Intelijen, dan yang terkuat adalah rakyat. Peringatannya jelas: tidak ada satu rezim pun yang bisa bertahan melawan perlawanan rakyatnya sendiri.

"Jangan diremehkan kekuatan rakyat. Kalau pada titik sentrum mereka sadar bahwa rakyat sudah disepelekan oleh penguasa, maka penguasa tinggal menghitung hari keruntuhannya," peringat Amien dengan nada serius.

Di penghujung kritiknya, Amien justru memberikan semacam "resep sukses" untuk Prabowo yang masih punya sisa waktu sekitar 3 tahun 10 bulan.

"Anda bisa memetik sukses dengan jalan kembali menjadikan Anda adalah penguasa tertinggi dan tidak usah takut kepada polisi," sarannya.

Kuncinya, menurut dia, adalah reformasi cepat di tubuh Polri. "Kalau Anda cekat-ceket melakukan rekonstruksi reformasi Polri yang sudah berat itu, insyaallah Anda sukses. Tetapi kalau seperti ini terus, bahkan makin parah, maka mungkin rakyat yang berdaulat akan ambil sikap," tandas Amien mengakhiri.

Hingga saat ini, baik dari Istana Kepresidenan maupun Mabes Polri, belum ada tanggapan resmi yang keluar menanggapi serangkaian kritik pedas dari Amien Rais tersebut.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar