Awal tahun, dengan segala simbolisme evaluasinya, sering jadi pemicu tekanan ini. Resolusi berubah fungsi. Dari alat refleksi diri, ia jadi tolok ukur terselubung: siapa yang sudah maju, dan siapa yang masih di tempat.
Padahal, coba kita ingat. Perjalanan hidup manusia itu jarang linear dan rapi. Membangun makna dan stabilitas hampir selalu melibatkan masa jeda, ketidakpastian, dan penyesuaian ulang. Sayangnya, narasi publik lebih suka menampilkan resolusi, bukan prosesnya yang berliku. Hasil akhir, bukan perjalanan yang masih berdebu.
Ketika kita terlalu bergantung pada konfirmasi dari luar likes, pengakuan, pujian maka koherensi internal kita terpinggirkan. Kita sibuk mengejar kesesuaian dengan ritme orang banyak, alih-alih memahami arah personal yang sedang kita rintis sendiri. Dalam kondisi begini, perasaan tertinggal itu bukan sinyal objektif lagi. Ia lebih merupakan produk dari kerangka penilaian yang bahkan bukan pilihan kita sepenuhnya.
Menyadari adanya perceived lag ini bukan ajakan untuk pasrah atau menolak ambisi. Justru sebaliknya. Kesadaran ini membuka ruang untuk mengevaluasi ulang cara kita menilai kemajuan diri. Tidak semua pertumbuhan harus terlihat instan. Dan tidak setiap fase hidup perlu dibuktikan di awal tahun.
Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan di awal tahun ini bukan "Seberapa cepat aku berlari?", tapi "Apakah arah yang kutuju ini masih aku kenali, masih aku ingini?"
Artikel Terkait
Skripsi yang Tersandera Birokrasi: Gelar atau Gagasan?
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah
Bolsonaro Terjatuh di Balik Jeruji, Dilarikan ke Rumah Sakit
Kobaran Api Hanguskan Rumah di Palmerah Dini Hari