Awal tahun selalu membawa getaran aneh. Ada dorongan untuk mengecek ulang hidup, bikin resolusi, merapikan rencana. Semua seakan dimulai dari nol lagi. Tapi jujur saja, di balik semangat pembaruan itu, banyak dari kita justru disergap perasaan tak enak. Sebuah kegelisahan samar bahwa kita kok belum juga sampai di titik yang "seharusnya".
Rasanya jarang datang tiba-tiba. Lebih sering, ia menyelinap pelan. Mungkin saat lagi scroll media sosial, lihat teman seumuran mengumumkan promosi, pernikahan, atau sekadar caption penuh keyakinan tentang hidup mereka yang "akhirnya jelas". Tanpa kita sadari, kita mulai membandingkan. Potongan hidup orang yang tampak sempurna itu dengan kenyataan kita yang masih berantakan. Lalu muncul pertanyaan menggerogoti: "Kenapa aku belum di sana?"
Menurut sejumlah pakar psikologi sosial, kondisi ini punya namanya: perceived lag. Intinya, kita merasa perkembangan kita lebih lambat dari standar sosial yang kita lihat di sekitar. Nah, ini yang penting: perasaan ini belum tentu muncul karena kita benar-benar gagal. Sumber utamanya justru cara kita memaknai "progres". Kita menilainya secara relatif, dibandingkan orang lain, bukan melihat pertumbuhan kita sendiri secara utuh.
Media sosial, ya, dia memperparah keadaan. Mekanismenya disebut upward social comparison. Kita membandingkan proses berantakan kita dengan hasil akhir yang dipoles rapi milik orang lain. Kalau dilakukan terus, ya wajar saja perkembangan personal kita terasa kurang. Ia belum selesai, belum sempurna, belum layak dipajang.
Masalahnya makin runyam karena standar perbandingan kita sering kali tak kelihatan. Ada social timelines yang bekerja diam-diam di kepala kita. Anggapan tak tertulis tentang kapan seseorang "seharusnya" punya karier mapan, menikah, atau punya rumah. Timeline ini tak pernah diumumkan, tapi kita serap begitu saja dari lingkungan, dari apa yang dianggap normal.
Akibatnya, setiap penyimpangan dari jalur itu langsung ditafsir sebagai keterlambatan. Bukan sebagai perbedaan jalan atau ritme. Masa eksplorasi dianggap kebingungan. Fase jeda untuk refleksi dilihat sebagai stagnasi. Ketika hidup kita tak sinkron dengan orang sekitar, yang dipertanyakan adalah diri kita sendiri, bukan konteksnya.
Awal tahun, dengan segala simbolisme evaluasinya, sering jadi pemicu tekanan ini. Resolusi berubah fungsi. Dari alat refleksi diri, ia jadi tolok ukur terselubung: siapa yang sudah maju, dan siapa yang masih di tempat.
Padahal, coba kita ingat. Perjalanan hidup manusia itu jarang linear dan rapi. Membangun makna dan stabilitas hampir selalu melibatkan masa jeda, ketidakpastian, dan penyesuaian ulang. Sayangnya, narasi publik lebih suka menampilkan resolusi, bukan prosesnya yang berliku. Hasil akhir, bukan perjalanan yang masih berdebu.
Ketika kita terlalu bergantung pada konfirmasi dari luar likes, pengakuan, pujian maka koherensi internal kita terpinggirkan. Kita sibuk mengejar kesesuaian dengan ritme orang banyak, alih-alih memahami arah personal yang sedang kita rintis sendiri. Dalam kondisi begini, perasaan tertinggal itu bukan sinyal objektif lagi. Ia lebih merupakan produk dari kerangka penilaian yang bahkan bukan pilihan kita sepenuhnya.
Menyadari adanya perceived lag ini bukan ajakan untuk pasrah atau menolak ambisi. Justru sebaliknya. Kesadaran ini membuka ruang untuk mengevaluasi ulang cara kita menilai kemajuan diri. Tidak semua pertumbuhan harus terlihat instan. Dan tidak setiap fase hidup perlu dibuktikan di awal tahun.
Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan di awal tahun ini bukan "Seberapa cepat aku berlari?", tapi "Apakah arah yang kutuju ini masih aku kenali, masih aku ingini?"
Artikel Terkait
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Pick Up India