“Manakah yang kemudian patut diduga yang menjadi penyebab? Belum tahu. Ya, tapi secara kronologis dari ketiga bahan pangan itu atau ketiga snack itu yang paling rentan ditinjau dari aspek perlakuan pengelolaan itu adalah mayo,”
jelasnya.
Dia memaparkan kronologi pengolahannya. Risoles mayo itu diproduksi hari Minggu (28/12), lalu disimpan di freezer. Baru digoreng dini hari Senin (29/12) dan sampai di rumah sakit sekitar pukul 8 pagi.
Meski begitu, Ahadi kembali menekankan. Ini masih sebatas dugaan kuat, bukan kepastian.
“Yang patut diduga loh, patut diduga,”
tegasnya.
Vendor Siap Menanggung Biaya
Soal biaya perawatan, Ahadi menyebut sebagian besar ditanggung BPJS Ketenagakerjaan. Untuk mahasiswa yang tidak memiliki jaminan tersebut, biayanya akan dibebankan kepada vendor penyedia makanan. Termasuk biaya untuk uji laboratorium.
“Jadi, semua yang tidak ditanggung BPJS Ketenagakerjaan, biaya perawatan dan penyembuhannya itu akan dibebankan kepada penyedia, termasuk untuk pemeriksaan laboratorium,”
kata Ahadi.
Yang menarik, kasus ini rencananya tidak akan dibawa ke meja hijau. Pihak rumah sakit lebih mengedepankan penyelesaian secara kekeluargaan.
“Jadi tetap dimintai pertanggungjawaban. Pertanggungjawabannya adalah pertanggungjawaban moral dan kekeluargaan. Not pertanggungjawaban hukum,”
pungkas Ahadi menutup penjelasan.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Akhirnya Dibongkar Malam Ini
Skripsi yang Tersandera Birokrasi: Gelar atau Gagasan?
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah
Bolsonaro Terjatuh di Balik Jeruji, Dilarikan ke Rumah Sakit