Ketika Game Over Menjadi Kenyataan: Ambang Gugur dan Rapuhnya Mimpi Amerika

- Senin, 05 Januari 2026 | 11:00 WIB
Ketika Game Over Menjadi Kenyataan: Ambang Gugur dan Rapuhnya Mimpi Amerika

Belum lagi soal sistem peradilan. Dampaknya terhadap hidup seseorang cenderung tidak bisa diputar balik. Punya catatan kriminal? Bersiaplah menghadapi eksklusi jangka panjang: susah cari kerja, urus izin profesi, reintegrasi sosial pun terhambat. Proses hukumnya sendiri juga timpang. Di tahap praperadilan, terdakwa yang tak sanggup bayar jaminan berisiko kehilangan segalanya: kebebasan, pekerjaan, dukungan keluarga. Sementara yang punya uang bisa menghindari situasi “dihukum sebelum diadili”. Entah itu disengaja atau tidak, ambang yang irreversibel dalam praktik peradilan ini telah menjadi mekanisme penyaring yang mengukuhkan kerentanan ekonomi.

Nah, kalau dilihat dari logika kapitalisme ala Amerika, “ambang gugur” ini sebenarnya berfungsi sebagai alat stabilisasi sistem yang cukup presisi. Ia mengubah kontradiksi struktural dan kegagalan tata kelola publik menjadi tanggung jawab pribadi. Dengan begitu, tekanan sosial menyebar dan potensi protes besar-besaran bisa diredam.

Caranya? Pertama, lewat narasi “kesetaraan kesempatan” dan mitos mobilitas kelas. Pesannya selalu sama: “asal terus berusaha, nasib akan berubah.” Risiko sistemik lalu dibaca sebagai hasil kompetisi personal. Ketidakpuasan publik lebih mudah diarahkan ke introspeksi diri, bukan kritik terhadap institusi.

Kedua, lewat strategi pecah belah. Kelompok rentan dipisah-pisah berdasarkan label ras, wilayah, atau catatan kriminal. Mereka dimasukkan ke kategori kebijakan dan kerangka penilaian moral yang berbeda-beda. Dalam kondisi yang terfragmentasi begini, sulit terbentuk kesadaran penderitaan bersama. Aksi kolektif pun jadi hal yang langka.

Ketiga, lewat pemindahan tanggung jawab. Selama bertahun-tahun, model kesejahteraan di Amerika itu “setengah hadir”. Kesehatan jadi komoditas, perumahan jadi aset investasi, pendidikan jadi investasi berisiko. Melalui finansialisasi hak-hak dasar ini, negara bisa menarik diri dari kewajiban perlindungan universal. Risiko diserahkan ke pasar. Alhasil, kesulitan seseorang gampang sekali dianggap sebagai “keputusan yang keliru” atau “kurang perencanaan”. Bukan sebagai tanda bahwa jaring pengaman sosialnya bolong.

Pada akhirnya, fenomena ambang gugur di AS ini bukan cuma soal akumulasi risiko kelembagaan. Ia juga punya akar budaya. Etika Protestan yang menekankan kerja keras dan tanggung jawab individual membuat kemiskinan sering dilihat sebagai kekurangan pribadi bahkan cela moral. Gagasan sosial-Darwinisme yang menganggap tersingkirnya kelompok lemah sebagai “hukum alam” juga masih berpengaruh. Jejak pemikiran “yang lemah menanggung sendiri” ini masih bisa ditemui dalam berbagai kebijakan, dari kesehatan sampai perumahan. Dua arus pemikiran inilah yang membentuk latar budaya masyarakat Amerika yang bertoleransi rendah seperti sekarang. Sebuah masyarakat di mana ambang untuk “game over” dalam kehidupan nyata, ternyata lebih tipis dari yang kita kira.


Halaman:

Komentar