“Ambang Gugur”: Ketika Mimpi Amerika Hanya Tinggal Sebatas Game Over
Bayangkan Anda sedang main game. Karakternya punya health bar. Kalau bar itu habis, ya habislah. Karakter itu “gugur”, keluar dari permainan. Istilah “ambang gugur” atau failure threshold memang lahir dari dunia game online. Tapi belakangan, istilah itu merayap keluar. Ia dipakai untuk menggambarkan kondisi nyata di Amerika Serikat, terutama untuk mereka yang hidup di ujung tanduk para tunawisma dan mereka yang terpinggirkan. Pergeseran makna ini bukan tanpa alasan. Ia seperti cermin yang memantulkan betapa rapuhnya hidup warga biasa sekarang. Narasi American Dream pun mulai dipertanyakan lagi. Lebih dalam lagi, istilah ini menyingkap sebuah mekanisme tersembunyi: saat seseorang jatuh melewati batas minimal untuk bertahan hidup, ia bisa tersingkir secara sistematis. Bukan cuma dari jaring pengaman sosial, tapi juga dari kesempatan, bahkan martabatnya.
Di Amerika, “ambang gugur” ini bukan cuma soal angka kemiskinan. Ia lebih rumit. Ia muncul dari tumpang tindihnya beberapa ambang kritis di level kelembagaan. Ketika tanggung jawab berbagai pihak pemerintah, pasar, masyarakat tidak nyambung, jadilah lingkungan sosial yang punya toleransi sangat rendah terhadap risiko. Satu salah langkah, konsekuensinya bisa fatal.
Semua berawal dari tiga pilar yang goyah: kesehatan, uang, dan tempat tinggal. Ambil contoh kesehatan. Sistem kesehatan di sana sangat komersial dan terfragmentasi. Kualitas layanan beda-beda tergantung daerah, bahkan tergantung pekerjaan dan latar ras seseorang. Data Biro Sensus AS tahun 2024 cukup menohok: sekitar 8% penduduk tidak punya asuransi kesehatan sepanjang tahun. Tapi angka itu menipu. Lihat rinciannya: pada orang dewasa Hispanik/Latino, angkanya melonjak jadi 24,6%. Pada kulit hitam, sekitar 10,5%. Dan di sektor-sektor berupah rendah seperti pertanian atau perikanan? Hampir 30% pekerjanya tidak terlindungi asuransi.
Di sisi pendapatan, masalahnya juga kronis. Upah minimum federal mandek sejak 2009. Bayangkan, sudah 15 tahun tidak naik. Sementara inflasi menggerogoti daya beli, hingga nilai riil upah itu diperkirakan anjlok sekitar 30%. Banyak keluarga terjebak dalam status working poor sibuk kerja, tapi tetap miskin. Perlindungan kesejahteraan pun banyak bergantung pada majikan atau aturan tiap negara bagian. Para pekerja gig dan lepas seringkali jatuh di antara celah. Data Federal Reserve Bank of Minneapolis (2023) menunjukkan sesuatu yang muram: dari pekerja yang menganggur dan seharusnya dapat tunjangan, rata-rata cuma 29% yang benar-benar menerimanya. Hasilnya? Terbentuklah kelompok masyarakat yang dayanya tipis. Mereka terus bertahan di bawah tekanan biaya hidup, tanpa ruang untuk bernapas, apalagi bangkit.
Lalu ada pendidikan. Selama ini ia diagung-agungkan sebagai tangga mobilitas sosial. Tapi kenyataannya? Ia justru sering jadi sumber utang dan jebakan. Mekanisme pinjaman mahasiswa di AS sangat terfinansialisasi. Bunganya bisa menumpuk dan menggulung pokok utang, seperti bola salju yang makin besar. Hingga akhir 2024, total utang pelajar AS sudah mencapai US$1,77 triliun. Rata-rata setiap peminjam terbebani lebih dari US$38.000. Bagi keluarga menengah ke bawah yang berharap pendidikan mengubah nasib, utang ini justru jadi beban jangka panjang. Jalur untuk naik kelas sosial malah menyempit.
Belum lagi soal sistem peradilan. Dampaknya terhadap hidup seseorang cenderung tidak bisa diputar balik. Punya catatan kriminal? Bersiaplah menghadapi eksklusi jangka panjang: susah cari kerja, urus izin profesi, reintegrasi sosial pun terhambat. Proses hukumnya sendiri juga timpang. Di tahap praperadilan, terdakwa yang tak sanggup bayar jaminan berisiko kehilangan segalanya: kebebasan, pekerjaan, dukungan keluarga. Sementara yang punya uang bisa menghindari situasi “dihukum sebelum diadili”. Entah itu disengaja atau tidak, ambang yang irreversibel dalam praktik peradilan ini telah menjadi mekanisme penyaring yang mengukuhkan kerentanan ekonomi.
Nah, kalau dilihat dari logika kapitalisme ala Amerika, “ambang gugur” ini sebenarnya berfungsi sebagai alat stabilisasi sistem yang cukup presisi. Ia mengubah kontradiksi struktural dan kegagalan tata kelola publik menjadi tanggung jawab pribadi. Dengan begitu, tekanan sosial menyebar dan potensi protes besar-besaran bisa diredam.
Caranya? Pertama, lewat narasi “kesetaraan kesempatan” dan mitos mobilitas kelas. Pesannya selalu sama: “asal terus berusaha, nasib akan berubah.” Risiko sistemik lalu dibaca sebagai hasil kompetisi personal. Ketidakpuasan publik lebih mudah diarahkan ke introspeksi diri, bukan kritik terhadap institusi.
Kedua, lewat strategi pecah belah. Kelompok rentan dipisah-pisah berdasarkan label ras, wilayah, atau catatan kriminal. Mereka dimasukkan ke kategori kebijakan dan kerangka penilaian moral yang berbeda-beda. Dalam kondisi yang terfragmentasi begini, sulit terbentuk kesadaran penderitaan bersama. Aksi kolektif pun jadi hal yang langka.
Ketiga, lewat pemindahan tanggung jawab. Selama bertahun-tahun, model kesejahteraan di Amerika itu “setengah hadir”. Kesehatan jadi komoditas, perumahan jadi aset investasi, pendidikan jadi investasi berisiko. Melalui finansialisasi hak-hak dasar ini, negara bisa menarik diri dari kewajiban perlindungan universal. Risiko diserahkan ke pasar. Alhasil, kesulitan seseorang gampang sekali dianggap sebagai “keputusan yang keliru” atau “kurang perencanaan”. Bukan sebagai tanda bahwa jaring pengaman sosialnya bolong.
Pada akhirnya, fenomena ambang gugur di AS ini bukan cuma soal akumulasi risiko kelembagaan. Ia juga punya akar budaya. Etika Protestan yang menekankan kerja keras dan tanggung jawab individual membuat kemiskinan sering dilihat sebagai kekurangan pribadi bahkan cela moral. Gagasan sosial-Darwinisme yang menganggap tersingkirnya kelompok lemah sebagai “hukum alam” juga masih berpengaruh. Jejak pemikiran “yang lemah menanggung sendiri” ini masih bisa ditemui dalam berbagai kebijakan, dari kesehatan sampai perumahan. Dua arus pemikiran inilah yang membentuk latar budaya masyarakat Amerika yang bertoleransi rendah seperti sekarang. Sebuah masyarakat di mana ambang untuk “game over” dalam kehidupan nyata, ternyata lebih tipis dari yang kita kira.
Artikel Terkait
Anggota Polri Meninggal dengan Luka Mencurigakan, Propam Polda Sulsel Lakukan Visum dan Pemeriksaan
Aktivis HAM Soroti Ironi Anggaran Negara Usai Tragedi Anak Meninggal karena Tak Mampu Beli Alat Tulis
AC Milan Tersungkur di San Siro, Kalah 0-1 dari Parma
Pakar Hukum Soroti Daya Paksa dan Krisis Kepercayaan Publik pada Aparat