Pada awal tahun 2026, cuaca di kawasan Samudera Hindia mulai menunjukkan gelagat yang serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terbentuknya Bibit Siklon Tropis 91S, Senin (5/12). Pemantauan intensif dilakukan sejak 3 Januari pukul 18.00 UTC atau 01.00 WIB dini hari.
Menurut pernyataan resmi BMKG, bibit badai yang berada dalam pengawasan TCWC Jakarta ini punya peluang tinggi untuk berkembang jadi siklon tropis penuh. "Bibit Siklon Tropis 91S memiliki peluang Tinggi untuk menjadi siklon tropis dan bergerak ke arah selatan-tenggara, menjauhi wilayah Indonesia dalam 24 jam ke depan," jelas mereka.
Untungnya, pergerakannya diprakirakan menjauh. Namun begitu, kehadirannya di laut barat daya Lampung tetap mesti diwaspadai. Data terakhir menunjukkan kecepatan angin maksimum mencapai 65 km/jam dengan tekanan udara minimum 998 hPa.
Dampak yang Mesti Diantisipasi
Meski diprediksi akan menjauh, efek tidak langsung dari 91S ini tidak bisa dianggap enteng. BMKG memaparkan sejumlah dampak yang bakal terasa hingga 6 Januari 2026 mendatang, terutama terkait cuaca ekstrem dan kondisi laut.
Artikel Terkait
Bonus Demografi atau Beban Masa Depan? Saat Satu Juta Sarjana Menganggur
Prabowo Sindir Pakar Ngarang di Podcast, Klaim Swasembada Beras Lebih Cepat dari Target
Hanya Dua Menit di Dunia, Tapi Penentu Nasib Abadi
Invasi AS ke Venezuela: Presiden Berbahaya untuk Taiwan?