Jangan lupa Patrice Lumumba di Kongo tahun 1961. Ia dibunuh hanya karena punya mimpi sederhana: rakyatnya harus berdaulat atas mineral mereka sendiri.
Atau Libya 2011. Muammar Qaddafi punya rencana membuat mata uang Afrika bersama dan mengontrol minyaknya. Hasilnya? NATO yang didukung AS membombardir negara termakmur di Afrika itu hingga hancur.
Daftarnya masih panjang. Guatemala 1954, Afghanistan, Irak, Suriah dalam berbagai periode, Mesir 2013, dan banyak lagi. Bahkan Indonesia tak luput. Soekarno dulu mendorong kedaulatan ekonomi dan menasionalisasi aset asing. Akibatnya? AS disebut-sebut terlibat dalam operasi perubahan rezim 1965 di balik layar.
Menurut beberapa catatan, AS terlibat langsung atau tidak dalam lebih dari 70 upaya penggulingan pemerintahan sejak 1945. Angkanya bisa diperdebatkan, tapi polanya jelas sekali. Kalau pemimpinnya menurut dan bersahabat, dia akan aman. Kalau melawan, bersiaplah menghadapi segala cara untuk menjatuhkannya.
Kini, lihatlah Palestina. Israel, dengan dukungan penuh AS, melakukan kekejian dan pembantaian massal di Gaza. Ini sebenarnya bukan tentang Hamas atau keamanan Israel semata. Ini soal kontrol wilayah.
Ingat, ada ladang gas yang sangat kaya di lepas pantai Gaza. Ingat juga pernyataan Trump yang ingin menjadikan Gaza seperti “Riviera di Timur Tengah”, sambil mendorong warga Palestina keluar dari tanah air mereka.
Jadi, setiap kali Amerika Serikat berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia, coba tanyakan ini: ada sumber daya alam apa di sana? Siapa yang menguasainya? Dan yang paling penting, siapa yang diuntungkan?
Artikel Terkait
Prabowo Anugerahkan Bintang Jasa hingga Petani Biasa di Puncak Panen Raya Karawang
Nenek Disandera Maling yang Ketakutan di Rumahnya Sendiri
Pangi Syarwi Tantang Jokowi-Gibran: Tunjukkan Ijazah, Saya Cium Pantat
Kembalinya Pilkada ke DPRD: Kedaulatan Rakyat yang Dikubur dalam Ruang Tertutup