“Bencana itu musibah bersama. Tidak elok jika kemudian dijadikan bahan saling serang. Yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah solusi, bukan polemik,” tegasnya.
Energi dan fokus, lanjutnya, harusnya tercurah untuk membantu korban. Kritik konstruktif tentu boleh, asal disampaikan dengan semangat perbaikan dan kepedulian.
Secara lebih luas, momen ini menjadi ujian penting bagi kepemimpinan nasional yang baru. Kehadiran negara yang terkoordinir dan cepat, kata Farid, bisa memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi mereka yang terdampak.
“Kepemimpinan diuji justru saat krisis. Respons cepat, komunikasi yang terbuka, serta keberanian mengambil keputusan adalah hal krusial. Sejauh ini, Presiden Prabowo menunjukkan keseriusan itu,” katanya.
Model kepemimpinan tegas tapi terbuka kolaborasi itu terlihat dari instruksi langsung presiden ke jajaran kabinet dan aparat di lapangan.
Meski memberi apresiasi, Farid punya catatan. Perhatian tidak boleh berhenti saat fase darurat usai. Pekerjaan justru semakin berat ke depan: relokasi, pemulihan ekonomi lokal, dan yang tak kalah vital, mitigasi agar sejarah tak terulang.
“Ke depan, penting ada evaluasi menyeluruh dan penguatan mitigasi bencana. Muhammadiyah dan ormas lain siap terus bersinergi dengan pemerintah untuk memastikan pemulihan berjalan adil dan berkelanjutan,” pungkas Farid.
Harapannya sederhana: semangat persatuan dalam menghadapi musibah di Sumatera ini bisa jadi contoh. Bahwa persoalan kemanusiaan harusnya berada di atas segala perbedaan.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Rasuna Said Mulai Dibongkar, Lalu Lintas Dialihkan ke Jalur Cepat
Hakim Tegur Personel TNI di Sidang Korupsi Chromebook, Muncul Protes
María Corina Machado dan Dilema Oposisi yang Menggadaikan Kedaulatan
Gedung Putih Buka Opsi Militer untuk Greenland, Sekutu Eropa Serentak Tolak