Anies Baswedan Soroti Serangan AS ke Venezuela
Serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela, ya, itu sangat disayangkan. Anies Baswedan menilai langkah ini bertentangan dengan prinsip kedaulatan negara dan multilateralisme. Padahal, AS sendiri kerap mengklaim diri sebagai penjaga demokrasi global. Tindakan sepihak ini, menurutnya, membuat konsistensi prinsip mereka dipertanyakan. Apalagi di tengah peta geopolitik sekarang, di mana pengaruh Rusia dan Tiongkok di Amerika Latin makin kuat. Situasinya jadi runyam.
Risikonya jelas: ketidakstabilan yang bisa meluas. Negara seperti Indonesia pun dipaksa untuk lebih cermat lagi. Kita harus pintar-pintar menavigasi kepentingan nasional, tidak bisa sekadar ikut arus ideologi dari luar.
“Apa yang terjadi pada Venezuela juga menjadi preseden bagi negara-negara berkembang lainnya,” ujar Anies.
Ini bukan cuma soal pelanggaran kedaulatan biasa. Lebih dari itu, ini terasa seperti upaya sistematis untuk membatasi kebebasan negara-negara di Selatan. Kebebasan untuk mengelola sumber daya mereka sendiri. Karena itu, solidaritas antar negara berkembang harus diperkuat. Prinsip non-intervensi yang sudah lama diperjuangkan, harus dijaga bersama.
Di sisi lain, kelemahan diplomasi multilateral jadi kian nyata. Entah lewat PBB atau Organisasi Negara-negara Amerika (OAS), efektivitasnya diragukan. Pendekatan lunak ala ‘ASEAN Way’ pun terasa kurang memadai saat berhadapan dengan konfrontasi langsung seperti ini. Mungkin sudah waktunya untuk diplomasi yang lebih proaktif. Misalnya, membangun jaringan dengan aktor-aktor non-negara untuk mediasi yang efektif. Netralitas pasif hanya akan membuat kita rentan jadi korban.
Artikel Terkait
Banjir Susulan Landa 44 Desa di Aceh Timur, Ribuan Jiwa Terdampak
Menara Haji Indonesia di Makkah Ditargetkan Beroperasi pada 2028
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang