Korea Utara Ledak AS: Hegemoni Brutal di Balik Penangkapan Maduro

- Minggu, 04 Januari 2026 | 18:48 WIB
Korea Utara Ledak AS: Hegemoni Brutal di Balik Penangkapan Maduro

Lewat pernyataan resminya, Korea Utara tak main-main mengecam Amerika Serikat. Alasannya? Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Bagi Pyongyang, langkah Washington ini bukan cuma salah, tapi sebuah pelanggaran serius terhadap kedaulatan sebuah negara berdaulat. Mereka menyebutnya cerminan dari watak jahat dan brutal.

Pernyataan keras itu disiarkan oleh kantor berita resmi KCNA, Minggu lalu. Melalui Kementerian Luar Negerinya, pemerintah Korut tak segan menyebut tindakan AS sebagai upaya hegemonik yang sama sekali tak bisa diterima.

“Kementerian Luar Negeri Pyongyang dengan keras mengecam tindakan Amerika Serikat yang mencari hegemoni dan dilakukan di Venezuela,”

demikian penjelasan seorang juru bicara, seperti dilansir AFP.

Menurut mereka, insiden ini cuma satu dari banyak contoh. Ia kembali memperlihatkan karakter sesungguhnya Amerika di mata dunia. “Insiden ini adalah contoh lain yang dengan jelas kembali menegaskan sifat Amerika Serikat yang jahat dan brutal,” lanjut sang juru bicara tanpa tedeng aling-aling.

Di sisi lain, Korut juga punya penilaian tegas soal status Maduro. Mencopotnya dari kekuasaan dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan. Bukan cuma melawan hukum internasional, tapi juga menginjak-injak Piagam PBB.

Karena itu, seruan pun dilayangkan. Komunitas internasional didesak untuk bersuara lantang menentang aksi AS ini. “Suara-suara protes dan kecaman yang semestinya terhadap pelanggaran kedaulatan negara lain yang sudah menjadi kebiasaan Amerika Serikat,” tekan juru bicara itu lagi.

Bagi pengamat, reaksi keras Pyongyang ini mungkin bisa ditebak. Skenario penangkapan pemimpin seperti ini disebut-sebut jadi mimpi terburuk bagi elite Korut. Sudah bertahun-tahun mereka menuduh Washington punya kebiasaan buruk: berusaha menggulingkan pemerintahan yang dianggap tidak sejalan.

Nah, ini juga yang kerap dijadikan pembenaran. Selama puluhan tahun, program nuklir dan rudal Korut diklaim sebagai tameng, upaya pencegah agar AS tidak main ganti rezim. Hubungan dengan Caracas pun cukup erat. Jadi wajar saja kalau Pyongyang termasuk pendukung vokal bagi pemerintahan sosialis Maduro di Venezuela.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar