Di sisi lain, pilihan Venezuela sebagai target juga nggak main-main. Semua tahu negara itu punya cadangan minyak terbesar di dunia. Jadi, konflik ini bau-baunya ekonomi dan energi global dari jarak jauh. Ketegangan ini berpotensi memicu rivalitas antara kekuatan besar AS, China, Rusia jadi makin panas. Reaksi keras beberapa negara terhadap AS menunjukkan konflik lokal bisa melebar jadi ketegangan global yang lebih serius.
“Kalau berlarut, dampaknya akan merembet,” ujar Amir. “Dari stabilitas harga energi, lalu ke jalur perdagangan global, sampai polarisasi politik internasional. Semua bisa kena imbasnya.”
Lalu, di mana posisi Indonesia? Meski tak terlibat langsung, dampak tidak langsungnya harus diantisipasi. Mulai dari gejolak ekonomi global yang bikin pusing, tekanan diplomatik yang halus, sampai perang informasi di ruang digital yang makin menjadi.
Amir khususnya menyoroti banjir disinformasi yang selalu mengiringi konflik besar. Perang narasi ini bisa dipakai untuk memengaruhi opini publik di mana saja, termasuk di Indonesia.
Di tengah semua ini, politik luar negeri bebas aktif Indonesia harus dijaga konsistensinya. Posisi sebagai negara non-blok yang menjunjung hukum internasional dan perdamaian dunia, harus diperkuat. Amir mendorong pemerintah untuk aktif bersuara di forum seperti PBB, ASEAN, dan Gerakan Non-Blok. Tujuannya jelas: mendesak penyelesaian damai dan menolak normalisasi intervensi militer sepihak.
Artikel Terkait
Di Balik Stereotip Manja: Kesepian yang Tak Terungkap dari Anak Bungsu
Retret Kabinet Berakhir, Prabowo Apresiasi Inisiatif Menteri dan Sinyalkan Optimisme 2026
Pikiran Kita, Peta Mereka: Ketika Algoritma Menggambar Ulang Realitas
Pemerintah Segera Cairkan Kompensasi untuk Korban Banjir Sumatera