Pengamat Intelijen: Indonesia Harus Siaga, Serangan AS ke Venezuela Bisa Jadi Presiden Berbahaya
Laporan tentang serangan Amerika ke Venezuela dan penangkapan Presiden Maduro bukan cuma berita panas. Bagi Amir Hamzah, seorang pengamat intelijen dan geopolitik, ini adalah alarm keras. Indonesia, katanya, perlu segera meningkatkan kewaspadaan strategisnya. Dunia lagi tidak baik-baik saja, dan peristiwa di Amerika Selatan itu bisa jadi pertanda perubahan besar tatanan global.
Bayangkan saja. Kalau benar sebuah negara adidaya bisa seenaknya melancarkan operasi militer dan menyergap kepala negara lain, lalu apa jadinya? Itu preseden yang sangat berbahaya. Prinsip kedaulatan negara yang selama ini jadi dasar hubungan internasional bisa langsung rontok.
“Ini bukan lagi isu Venezuela semata,” tegas Amir Hamzah dalam pernyataannya, Ahad lalu. “Ini sinyal bahwa kedaulatan negara bisa dilanggar secara terbuka. Alasannya? Bisa atas nama kepentingan geopolitik, keamanan, atau ekonomi semata.”
Menurutnya, narasi penegakan hukum internasional tiba-tiba bisa berubah jadi alat legitimasi yang mematikan. Kalau dibiarkan, tatanan dunia pasca Perang Dunia II yang sudah rapuh itu berpotensi ambruk total.
Dan urusannya nggak cuma sampai di situ. Tindakan semacam ini, jika dikonfirmasi dan dibiarkan, membuka pintu lebar-lebar. Negara kuat lain bisa saja meniru, mengintervensi negara yang dianggap "bermasalah" atau berseberangan kepentingan.
“Hari ini Venezuela,” ingat Amir. “Besok bisa negara lain. Indonesia harus baca ini sebagai alarm strategis.”
Di sisi lain, pilihan Venezuela sebagai target juga nggak main-main. Semua tahu negara itu punya cadangan minyak terbesar di dunia. Jadi, konflik ini bau-baunya ekonomi dan energi global dari jarak jauh. Ketegangan ini berpotensi memicu rivalitas antara kekuatan besar AS, China, Rusia jadi makin panas. Reaksi keras beberapa negara terhadap AS menunjukkan konflik lokal bisa melebar jadi ketegangan global yang lebih serius.
“Kalau berlarut, dampaknya akan merembet,” ujar Amir. “Dari stabilitas harga energi, lalu ke jalur perdagangan global, sampai polarisasi politik internasional. Semua bisa kena imbasnya.”
Lalu, di mana posisi Indonesia? Meski tak terlibat langsung, dampak tidak langsungnya harus diantisipasi. Mulai dari gejolak ekonomi global yang bikin pusing, tekanan diplomatik yang halus, sampai perang informasi di ruang digital yang makin menjadi.
Amir khususnya menyoroti banjir disinformasi yang selalu mengiringi konflik besar. Perang narasi ini bisa dipakai untuk memengaruhi opini publik di mana saja, termasuk di Indonesia.
“Kita harus perkuat intelijen strategis, terutama intelijen digital dan geopolitik,” katanya. “Agar tidak jadi korban perang narasi global yang makin sulit dibedakan mana yang asli dan mana yang palsu.”
Di tengah semua ini, politik luar negeri bebas aktif Indonesia harus dijaga konsistensinya. Posisi sebagai negara non-blok yang menjunjung hukum internasional dan perdamaian dunia, harus diperkuat. Amir mendorong pemerintah untuk aktif bersuara di forum seperti PBB, ASEAN, dan Gerakan Non-Blok. Tujuannya jelas: mendesak penyelesaian damai dan menolak normalisasi intervensi militer sepihak.
“Diam saja berarti membiarkan preseden buruk ini jadi kebiasaan baru,” pungkas Amir Hamzah. “Indonesia harus bersuara. Bukan untuk memihak, tapi untuk menjaga prinsip keadilan dan kedaulatan global yang sebenarnya.”
Artikel Terkait
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Reformasi Makassar
Oknum Brimob Ditahan Usai Diduga Aniaya Siswa MTs Hingga Tewas di Tual
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Makassar
Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri