Maduro Sebut Yesus Seorang Palestina dalam Pidato Berapi-api Dukung Gaza

- Minggu, 04 Januari 2026 | 08:40 WIB
Maduro Sebut Yesus Seorang Palestina dalam Pidato Berapi-api Dukung Gaza

Oktober tahun lalu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyampaikan pidato yang keras. Sangat keras. Dalam acara Con Maduro yang disiarkan televisi nasional, tepat di momen peringatan satu tahun perang Israel-Hamas, ia tak hanya menyatakan dukungan pada Palestina. Ia melancarkan kecaman yang sangat tajam terhadap Israel.

Pidato yang berlangsung hampir tiga jam itu penuh dengan pernyataan-pernyataan kuat. Maduro menyebut perjuangan pembebasan Palestina sebagai "pertempuran terpenting dalam sejarah umat manusia." Baginya, narasi sejarah Israel patut ditolak. Ia bersikukuh bahwa Palestina adalah sebuah wilayah yang telah ada jauh sebelum negara Israel modern berdiri.

"Palestina selalu menjadi Palestina. Pertempuran terpenting dalam sejarah umat manusia adalah pembebasan Palestina dan pembebasan Yerusalem," tegas Maduro.

Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan pernyataan yang pasti menuai kontroversi: menyebut Yesus Kristus sebagai "seorang Palestina." Maduro menegaskan, Yerusalem adalah pusat bagi para nabi dari tiga agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

Di sisi lain, serangannya terhadap Israel sangat gamblang. Maduro menuding negara itu melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil. Ia geram dengan media internasional yang, menurutnya, menggambarkan konflik ini sekadar sebagai perang melawan Hamas. Narasi itu, bagi Maduro, menutupi realita mengerikan: korban sipil yang berjatuhan dalam jumlah sangat besar.

Ia mempertanyakan dengan nada sinis, apakah puluhan ribu anak dan perempuan yang tewas akibat serangan udara bisa disebut militan? Penghancuran sebagian besar Gaza, dalam pandangannya, adalah bukti nyata. Ini bukan operasi militer terbatas, melainkan perang pemusnahan.

Maduro tak berhenti di situ. Ia menyebut konflik Gaza sebagai perang paling brutal sejak era Nazi. Peringatannya seram: eskalasi bisa dengan mudah merembet ke Lebanon, Suriah, dan Iran. Ia juga tak ketinggalan mencela Mahkamah Internasional, yang dinilainya gagal total menghentikan kekerasan terhadap rakyat Palestina.

Target kritiknya meluas. Selain Israel, Maduro secara terbuka menyerang Zionisme. Ia menuduhnya sebagai proyek kolonial Barat yang mengandalkan kekuatan ekonomi, teknologi, dan lobi politik global. Bahkan, dengan nada konspiratif, ia mengaitkan Zionisme dengan dominasi Barat dan kekuatan politik tertentu termasuk para lawan politiknya di dalam negeri Venezuela sendiri.

Menariknya, di tengah kecamannya, Maduro sempat menyinggung klaim adanya garis keturunan Yahudi dalam keluarganya. Ia berargumen bahwa perang di Gaza harus dihentikan demi kemanusiaan. Namun begitu, klaim bahwa komunitas Yahudi Venezuela mendukung pernyataannya langsung dibantah oleh sejumlah perwakilan mereka. Fakta itu seolah menggarisbawahi kompleksitas posisinya.

Pada akhirnya, pernyataan keras di tahun 2024 itu semakin mengukuhkan Maduro sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling vokal mendukung Palestina dan menentang Israel. Sikap ini, tentu saja, bukan tanpa konsekuensi. Ia memperdalam ketegangan diplomatik Venezuela dengan Israel dan sekutu-sekutu Baratnya, di tengah konflik Timur Tengah yang hingga kini masih terus berkecamuk.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar