Ia mempertanyakan dengan nada sinis, apakah puluhan ribu anak dan perempuan yang tewas akibat serangan udara bisa disebut militan? Penghancuran sebagian besar Gaza, dalam pandangannya, adalah bukti nyata. Ini bukan operasi militer terbatas, melainkan perang pemusnahan.
Maduro tak berhenti di situ. Ia menyebut konflik Gaza sebagai perang paling brutal sejak era Nazi. Peringatannya seram: eskalasi bisa dengan mudah merembet ke Lebanon, Suriah, dan Iran. Ia juga tak ketinggalan mencela Mahkamah Internasional, yang dinilainya gagal total menghentikan kekerasan terhadap rakyat Palestina.
Target kritiknya meluas. Selain Israel, Maduro secara terbuka menyerang Zionisme. Ia menuduhnya sebagai proyek kolonial Barat yang mengandalkan kekuatan ekonomi, teknologi, dan lobi politik global. Bahkan, dengan nada konspiratif, ia mengaitkan Zionisme dengan dominasi Barat dan kekuatan politik tertentu termasuk para lawan politiknya di dalam negeri Venezuela sendiri.
Menariknya, di tengah kecamannya, Maduro sempat menyinggung klaim adanya garis keturunan Yahudi dalam keluarganya. Ia berargumen bahwa perang di Gaza harus dihentikan demi kemanusiaan. Namun begitu, klaim bahwa komunitas Yahudi Venezuela mendukung pernyataannya langsung dibantah oleh sejumlah perwakilan mereka. Fakta itu seolah menggarisbawahi kompleksitas posisinya.
Pada akhirnya, pernyataan keras di tahun 2024 itu semakin mengukuhkan Maduro sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling vokal mendukung Palestina dan menentang Israel. Sikap ini, tentu saja, bukan tanpa konsekuensi. Ia memperdalam ketegangan diplomatik Venezuela dengan Israel dan sekutu-sekutu Baratnya, di tengah konflik Timur Tengah yang hingga kini masih terus berkecamuk.
Artikel Terkait
Dasco Minta Polemik Pilkada oleh DPRD Ditunda, Fokus ke Bencana Sumatera Dulu
Kyrie Irving Pakai Kaos Dukungan untuk Palestina, Sorot Tragedi Jurnalis Gaza
Frederiksen Peringatkan Ambisi AS atas Greenland Bisa Runtuhkan NATO
Maria Ulfah Anshor: Kepemimpinan Perempuan Butuh Nurani, Bukan Hanya Kuota