Klaim Penangkapan Maduro: Sejarah Intervensi AS yang Berulang?

- Minggu, 04 Januari 2026 | 00:50 WIB
Klaim Penangkapan Maduro: Sejarah Intervensi AS yang Berulang?

Jakarta – Dunia dibuat tercengang. Bagaimana tidak? Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tiba-tiba mengklaim bahwa militer AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Klaim ini muncul di tengah serangan besar-besaran yang dilancarkan Washington terhadap Venezuela.

Di sisi lain, pemerintah Caracas justru tampak kebingungan. Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, dengan suara tegas menyatakan mereka tidak tahu di mana keberadaan sang presiden dan ibu negara.

“Kami menuntut bukti bahwa Presiden Maduro dan Cilia Flores masih hidup,” ujar Rodriguez dalam pesan audio yang disiarkan televisi negara, Sabtu lalu.

Pernyataannya itu semakin mengeraskan suasana yang sudah panas. Situasi memanas ini bukan tanpa sebab. Sebelumnya, pasukan AS telah melancarkan serangkaian serangan mematikan di perairan Karibia dan Pasifik Timur. Targetnya adalah kapal-kapal yang dituduh Washington sebagai penyelundup narkoba, termasuk fasilitas sandar yang diduga dipakai kartel Venezuela.

Kalau benar Maduro ditangkap, sejarah seolah berulang. Kita diingatkan pada nasib beberapa pemimpin yang dulu pernah berseteru dengan AS. Sebut saja Manuel Noriega dari Panama, atau Saddam Hussein dari Irak. Keduanya berakhir di tangan Amerika.

Nasib Pahit Manuel Noriega

Ambil contoh Noriega. AS pernah menyerbu Panama tahun 1989 untuk menjatuhkan pemimpin militer itu. Alasannya klasik: melindungi warga AS, memberantas korupsi, dan perdagangan narkoba. Padahal, sebelumnya Noriega sempat menjadi sekutu Washington.

Namun begitu hubungan memburuk, segalanya berubah. AS mendakwanya di Miami atas penyelundupan narkoba mirip dengan tuduhan terhadap Maduro sekarang. Noriega pun dianggap persona non grata.

Operasi di Panama itu tergolong besar, yang terbesar sejak Perang Vietnam. Noriega akhirnya dibawa ke AS, diadili, dan mendekam di penjara hingga 2010. Setelah sempat diekstradisi ke Prancis, ia dikembalikan ke Panama dan meninggal di penjara pada 2017.


Halaman:

Komentar