Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Pertama, utamakan refleksi sejati, bukan feed yang indah. Tahun Baru harusnya jadi ajang untuk menyelami diri, bukan cuma mempercantik tampilan digital. Kita butuh ruang untuk kejujuran emosional, bukan sekadar estetika yang dipoles rapi.
Kedua, batasi algoritma, perbanyak kehadiran nyata. Menetapkan batas waktu pakai atau melakukan "digital detox" terbukti membantu menurunkan kecemasan. Memulai tahun dengan mengendalikan gawai adalah bentuk perawatan diri yang sangat konkret.
Ketiga, perluas empati di era yang serba lepas kendali. Dengan menyadari bahwa banyak orang diam-diam berjuang, kita bisa memilih untuk lebih sering mendengar dan memberi dukungan yang tulus. Bukan cuma sekadar memberi "like" atau komentar singkat yang terkesan formal.
Pada akhirnya, pergantian tahun bukan cuma soal kembang api. Ini juga tentang keheningan batin yang butuh diakui. Jika media sosial adalah cermin, mari gunakan pantulannya untuk membangun hubungan yang lebih manusiawi. Bukan sekadar mengejar angka "engagement".
Bagaimanapun juga, hati yang tenang jauh lebih berharga daripada "feed" yang sempurna.
Artikel Terkait
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana
Pantai Akkarena Makassar: Destinasi Favorit Warga dengan Pemandangan Senja Memikat
Banjir Rendam Sejumlah Titik di Makassar, Tello Baru Terparah
Gempa Magnitudo 3,2 Guncang Sukabumi, Tidak Ada Laporan Kerusakan