Obama dan Biden mungkin kurang tertarik energi hijau lebih jadi prioritas. Tapi Trump? Dia berpikirnya "jadul", anti-energi hijau, dan pro-minyak banget. Banyak taipan industri minyak yang jadi penyandang dananya. Wajar kalau dia harus balas budi. Sekalian cari untung, kan?
Kalau Venezuela bisa berhasil dia balikkan jadi pro-AS, itu jadi modal politik yang gede banget. Apalagi buat pemilu paruh waktu November nanti.
Nanti pendukungnya pasti akan bilang: Trump berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan Bush, Obama, dan Biden. "Presiden terhebat sepanjang masa," begitu kira-kira pujiannya.
Begitulah politik internasional. Yang kuat berbuat semaunya.
Lalu, apa AS akan dituntut di pengadilan internasional? Jangan harap.
Dikutuk di PBB? Mungkin iya. Tapi apa pengaruhnya? Nol besar.
Di panggung dunia, siapa yang punya kekuatan, dialah yang bikin aturan. Keadilan? Jangan tanya.
Sekarang, kita tinggal nunggu reaksi selanjutnya. Yang paling menarik sih, bagaimana Rusia dan China menyikapi hilangnya sekutu penting mereka di halaman depan Amerika ini.
(")
Artikel Terkait
25 Desa Lenyap Ditelan Bencana, Pemerintah Siapkan Opsi Relokasi
Partai Non-Parlemen Buka Sekretariat Bersama, Siapkan Tuntutan Reformasi Pemilu
Uang Hanya Ilusi: Mengapa Islam Larang Kita Menimbun Harta?
Demokrasi yang Diculik: Ketika Pemilu Hanya Jadi Panggung Pesta Elit