✍🏻 Ayman Rashdan Wong
Sudah saya duga sebelumnya. Tapi, kecepatannya bikin kaget juga. Baru dua hari lalu saya bahas, eh, sekarang sudah terjadi.
Presiden Maduro ditangkap. Titik. Berakhir sudah kekuasaannya selama 12 tahun, sejak 2013 lalu.
Bukan cuma dia yang tumbang. Seluruh rezim "Chavismo" yang dibangun Hugo Chavez sosok yang sangat getol melawan AS ikut ambruk. Maduro kan penerusnya.
BREAKING: US President Donald Trump has claimed that the US carried out a "large-scale strike" against Venezuela and its leader, President Nicolás Maduro.
— Al Jazeera English (@AJEnglish) January 3, 2026
Trump said Maduro and his wife were "captured and flown out of the country" following the operation. pic.twitter.com/yowad33kjj
More footage: pic.twitter.com/dMXWtUbMob
— Suppressed News. (@SuppressedNws1) January 3, 2026
Dulu, di bawah Chavez, Venezuela berubah total. Dari sekutu dekat AS, jadi salah satu penentang paling vokal. Dia yang memimpin "Aliansi Bolivarian" bareng Kuba dan Nikaragua sebuah blok yang sengaja dibentuk buat nantangin pengaruh Washington. Bolivia dulu masuk, tapi sekarang udah balik lagi ke kubu AS.
Makanya, Venezuela tuh ibarat duri dalam daging buat Amerika. Sudah lama. Cuma, dari era Bush, Obama, sampai Biden, mereka kayaknya lebih sibuk urus Timur Tengah sama Eropa. Venezuela dibiarkan saja.
Nah, Trump lain cerita. Dia pengin fokusnya balik ke Amerika. Benua ini harus jadi "halaman belakang" yang benar-benar dia kuasai.
Alasan lain? Minyak. Cadangan minyak Venezuela itu yang terbesar di dunia, lho. Lebih gede dari Arab Saudi atau Iran sekalipun.
Obama dan Biden mungkin kurang tertarik energi hijau lebih jadi prioritas. Tapi Trump? Dia berpikirnya "jadul", anti-energi hijau, dan pro-minyak banget. Banyak taipan industri minyak yang jadi penyandang dananya. Wajar kalau dia harus balas budi. Sekalian cari untung, kan?
Kalau Venezuela bisa berhasil dia balikkan jadi pro-AS, itu jadi modal politik yang gede banget. Apalagi buat pemilu paruh waktu November nanti.
Nanti pendukungnya pasti akan bilang: Trump berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan Bush, Obama, dan Biden. "Presiden terhebat sepanjang masa," begitu kira-kira pujiannya.
Begitulah politik internasional. Yang kuat berbuat semaunya.
Lalu, apa AS akan dituntut di pengadilan internasional? Jangan harap.
Dikutuk di PBB? Mungkin iya. Tapi apa pengaruhnya? Nol besar.
Di panggung dunia, siapa yang punya kekuatan, dialah yang bikin aturan. Keadilan? Jangan tanya.
Sekarang, kita tinggal nunggu reaksi selanjutnya. Yang paling menarik sih, bagaimana Rusia dan China menyikapi hilangnya sekutu penting mereka di halaman depan Amerika ini.
(")
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah