Ini yang menarik. Situasi ini justru memicu ketegangan di antara sekutu-sekutu regional. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang selama bertahun-tahun mendukung berbagai faksi di Yaman, kini bersitegang. Aksi sepihak STC jelas membuat Riyadh geram, mempertajam perselisihan di antara kekuatan Teluk itu sendiri.
Pengumuman referendum itu sendiri muncul di tengah konflik yang memanas, terutama di Hadramout dan Al-Mahrah. Perebutan wilayah oleh STC menjadi pemicu perselisihan antara Saudi dan UEA.
Kalau rencana STC benar-benar terwujud, peta politik Yaman bisa berubah drastis. Negeri yang pernah terpisah menjadi utara dan selatan dari 1967 hingga 1990 itu berpotensi terbelah lagi. Dan dalam dua tahun ke depan, kita mungkin akan menyaksikan kelahiran sebuah negara baru yang mereka sebut "Arab Selatan". Masa depan Yaman, sekali lagi, digantungkan pada ketegangan dan diplomasi yang runyam.
Artikel Terkait
Wamen Pertanian Soroti Impor Gula Rafinasi Tekan Harga Petani
Tersangka Peragakan Ulang Pembunuhan Sadis dan Pemotongan Mayat di Brebes
Analis MNC Sekuritas: IHSG Masih Rentan Koreksi Meski Ditutup Menguat
Pelatih PSM Akui Laga Kontra PSIM di Yogyakarta Akan Berat dan Sulit