Di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Senin lalu, suasana tasyakuran Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama RI berlangsung khidmat. Menteri Agama Nasaruddin Umar tampil memberikan sambutan yang cukup menyentak. Intinya jelas: bekerja di Kemenag itu bukan sembarang pekerjaan.
“Melayani di Kementerian Agama bukan sekadar urusan administratif belaka,” tegas Nasaruddin. Suaranya lantang mengisi ruangan.
“Risiko dan tanggung jawabnya berlangsung 24 jam, tak kenal hari libur.”
Pernyataannya itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, ekspektasi masyarakat terhadap aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kemenag itu jauh lebih tinggi ketimbang instansi lain. Mereka dituntut tak cuma profesional, tapi juga harus jadi teladan sikap dan perilaku di tengah komunitas. Bayang-bayang sorotan publik selalu ada.
“Kita ini ibarat kain putih,” ujarnya, mengutip pesan almarhum Buya Hamka.
“Setetes noda akan terlihat sangat jelas.”
Di sisi lain, Nasaruddin tak cuma menuntut kesiapan kerja ekstra. Ia menggali lebih dalam soal nilai dasar pengabdian. Moto ‘Ikhlas Beramal’ yang sering terdengar, katanya, harus benar-benar dihayati. Bukan cuma tempelan slogan di dinding kantor.
Artikel Terkait
Kritik Fufufafa dan Pandji, Tapi Bungkam pada Aksi Pembantu Presiden?
Operasi Penangkapan Maduro: Ketika Narasi Jadi Senjata Sebelum Helikopter Mendarat
Rizal Fadillah Tantang Polri: Buktikan Keaslian Ijazah Jokowi dengan Uji Forensik Terbuka
Manohara Tegas Tolak Label Mantan Istri, Minta Media Hentikan Narasi Keliru