Amil: Pahlawan Tak Terduga yang Mengubah Wajah Filantropi Indonesia

- Kamis, 23 Oktober 2025 | 15:50 WIB
Amil: Pahlawan Tak Terduga yang Mengubah Wajah Filantropi Indonesia

Amil Zakat: Penggerak Peradaban dan Energi Baru Filantropi Indonesia

Direktur Eksekutif Forum Zakat (FOZ), Agus Budiyanto, menegaskan peran strategis amil zakat sebagai dai dan agen perubahan sosial. Dalam Forum Literasi Filantropi (Forlip) Vol. 36 bertema "Spirit Sumpah Pemuda: Energi Baru Filantropi Indonesia", Agus membagikan kisah inspiratif perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan.

"Saya berasal dari keluarga yang sangat berjuang. Orang tua saya hanya lulusan SD dan bekerja sebagai pembantu di warteg sebelum akhirnya berjualan gorengan," tutur Agus. Pengalaman hidup inilah yang membawanya menemukan panggilan di dunia advokasi dan pemberdayaan.

Mandat Syariah dan Konstitusi

Agus menegaskan bahwa profesi amil bukan sekadar pekerjaan sosial, melainkan mandat syariah dan konstitusi. "Amil adalah mandat dari Allah dan juga mandat konstitusi. Pengelolaan zakat merupakan bagian dari misi besar membangun kesejahteraan masyarakat dan peradaban," jelasnya.

Menurut Agus, zakat memiliki potensi besar sebagai instrumen dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor publik, privat, dan NGO sebagai pilar utama.

Relevansi Sumpah Pemuda dengan Filantropi Modern

Direktur Eksekutif BAZMA Pertamina, Hassan Afif, menyoroti relevansi semangat Sumpah Pemuda dengan gerakan filantropi di Indonesia. "Semangat pemuda 1928 adalah semangat memberi dan bersatu membangun bangsa. Dan itulah esensi filantropi, terutama gerakan zakat," ujar Hassan.

Hassan membagikan pengalaman pribadinya memilih karir sebagai amil zakat. "Meyakinkan calon mertua bahwa menjadi amil itu profesi mulia tidak mudah," kenangnya. Namun setelah 12 tahun berkarier di BAZMA Pertamina, keluarga akhirnya memahami makna pengabdiannya.

Tantangan Generasi Muda dan Peran Zakat

Hassan menyoroti tantangan serius yang dihadapi generasi muda Indonesia, mulai dari pengangguran hingga kesehatan mental. Meski angka pengangguran nasional menurun, kelompok pemuda masih menjadi penyumbang terbesar.

"Ketimpangan pendidikan juga menjadi persoalan mendasar. Masih ada sekitar 24,3 persen masyarakat Indonesia yang belum pernah sekolah," jelasnya. Selain itu, meningkatnya kasus perundungan dan gangguan mental di kalangan muda menjadi keprihatinan tersendiri.

Inisiatif BAZMA untuk Pemuda Indonesia

BAZMA menjalankan berbagai inisiatif sosial untuk menjawab tantangan tersebut, termasuk SMK gratis khusus laki-laki dan rumah singgah bagi pasien cuci darah. "Kami banyak menemui anak muda yang sudah harus cuci darah. Ini menggambarkan kondisi kesehatan generasi sekarang yang perlu perhatian serius," ungkap Hassan.

Menurutnya, zakat bukan sekadar aktivitas distribusi dana, tetapi energi peradaban yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa menuju visi Indonesia 2045.

Pesan untuk Generasi Muda

Hassan memberikan tiga pesan inspiratif bagi generasi muda: connection (membangun jejaring), collaboration (membuat gerakan bersama), dan contribution (memberikan kontribusi melalui donasi, pengetahuan, atau keterampilan).

Dia optimistis profesi amil akan semakin dihargai di masa depan. "Amil ke depan butuh keterampilan baru, dan itu hanya bisa dibangun dari semangat muda yang mau belajar dan berkontribusi," pungkasnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar