Harga Emas Melemah Didorong Dolar Kuat dan Kekhawatiran Inflasi

- Selasa, 14 April 2026 | 07:40 WIB
Harga Emas Melemah Didorong Dolar Kuat dan Kekhawatiran Inflasi

Harga emas kembali melemah di awal pekan ini. Pada perdagangan Senin (13/4/2026), sentimen pasar berubah suram setelah upaya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran mentok di akhir pekan. Kabar buntu itu langsung menekan logam kuning, didorong oleh dolar yang menguat dan kekhawatiran inflasi yang kembali menghantui.

Emas spot tercatat turun 0,20 persen ke level USD 4.740,34 per troy ons. Bahkan di awal sesi, harganya sempat terjun ke posisi terendah sejak 7 April lalu. Penguatan dolar AS jelas jadi salah satu biang keroknya. Bagi investor yang memegang mata uang lain, emas jadi terasa jauh lebih mahal ketika greenback mengeras.

Lalu, ada faktor minyak. Pasca kegagalan negosiasi, militer AS mengumumkan akan memblokade kapal-kapal yang berangkat dari pelabuhan Iran. Teheran tak tinggal diam, mereka membalas dengan ancaman akan menargetkan pelabuhan negara-negara Teluk. Reaksinya bisa ditebak: harga minyak mentah langsung melonjak.

Nah, lonjakan harga energi ini bikin pasar waswas. Inflasi berpotensi naik lagi, dan itu berarti bank sentral terutama The Fed bisa jadi menunda rencana pemotongan suku bunga. Padahal, harapan akan turunnya suku bunga itulah yang selama ini menyokong emas.

Phillip Streible, Kepala Strategi Pasar di Blue Line Futures, punya pandangan menarik.

"Pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen berita," ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Menurutnya, semua mata sekarang tertuju pada harga minyak. Kenapa? Karena pergerakannya akan langsung memengaruhi inflasi, yang pada akhirnya menentukan arah kebijakan The Fed ke depan.

Dan prospek suku bunga itu memang sedang suram. Pelaku pasar sekarang cuma melihat peluang sekitar 29 persen untuk ada pemangkasan suku bunga AS hingga akhir tahun. Angka itu turun drastis dari perkiraan 40 persen sebulan sebelumnya, berdasarkan data dari alat FedWatch milik CME. Suku bunga tinggi jelas tidak bersahabat untuk emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Sejak ketegangan AS-Israel dengan Iran memanas pada akhir Februari lalu, catatan untuk emas memang kurang bagus. Harga spot-nya telah anjlok lebih dari 10 persen. Tapi anehnya, justru ada yang melihat sisi positif dari penurunan ini.

Analis SP Angel menilai, aksi jual besar-besaran yang dipicu konflik justru bisa jadi hal yang sehat untuk prospek jangka panjang emas. Mereka berpendapat, koreksi ini membantu membersihkan pasar dari posisi-posisi spekulatif yang terlalu penuh.

Di sisi lain, perak juga ikut-ikutan melemah. Logam putih itu turun 0,2 persen ke USD 75,71 per ons. Tapi jangan salah, masa depannya mungkin masih cerah.

Paul Wong, ahli strategi pasar di Sprott Asset Management, punya optimisme tersendiri. Ia menyebut ketidakpastian pasokan minyak justru berpotensi mendorong permintaan struktural yang kuat terhadap perak. Apalagi, investasi di sektor panel surya fotovoltaik sedang mengalami percepatan yang signifikan.

Jadi, meski hari ini merah, cerita untuk logam mulia ini tampaknya belum berakhir.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar