Sejarah punya caranya sendiri untuk mengulang cerita. Ada kalanya, sebuah kebenaran ditolak bukan karena ia salah. Tapi justru karena ia terlalu jujur, terlalu terang benderang, hingga menyilaukan dan mengusik kenyamanan yang sudah mapan. Pada momen-momen seperti itu, kebenaran tak lagi diperdebatkan. Ia langsung disingkirkan. Bukan akal sehat yang dilawan, melainkan rasa takut yang dikobarkan.
Pola ini berulang. Ketika sebuah pesan menyentuh urat saraf kekuasaan, mengusik kepentingan terselubung, atau membongkar kepalsuan wibawa, responsnya jarang berupa dialog yang sehat. Yang muncul justru pelabelan buruk, pengucilan, dan pada puncaknya kekerasan. Seolah ada kesepakatan tak tertulis: bila kata-kata tak mempan, ancaman boleh dikeluarkan.
Kita bisa melihat salah satu contohnya yang paling getir dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW. Peristiwa itu terjadi di Ta’if. Pesan pembebasan dari berhala baik berhala kekuasaan, gengsi, maupun kebiasaan buta tak disambut dengan perdebatan. Yang datang adalah caci maki, lalu pengusiran. Batu-batu beterbangan, melukai tubuh. Ta’if, dengan demikian, menjadi simbol abadi. Ia mengajarkan bahwa kebenaran sering diuji bukan di ruang diskusi, tapi di lorong-lorong gelap kekerasan.
Namun begitu, kisah Ta’if bukan cuma cerita usang. Ia adalah cermin moral yang pantulannya masih terlihat jelas sampai sekarang. Zaman boleh berganti, cara mungkin berubah, tapi watak dasarnya tetap sama. Ketika kebenaran itu sendiri tak bisa dipatahkan, maka orang yang membawanya yang akan diserang. Saat akal kehilangan pijakan, ketakutan dijadikan senjata.
Cermin itulah yang terasa sangat relevan hari ini. Negeri ini sedang berduka didera bencana, luka ekologis, dan rasa keadilan yang goyah. Dalam suasana seperti ini, suara-suara warga pun bermunculan. Kreator konten dan para aktivis angkat bicara. Mereka menyoroti penanganan bencana yang terasa lambat, kebijakan yang jangkauannya seolah tak sampai ke rakyat, eksploitasi alam yang tak kenal ampun, serta kapasitas pejabat publik yang dipertanyakan. Suara ini lahir bukan dari niat menjatuhkan. Ini murni naluri untuk menjaga.
Ambil contoh kritik soal bencana. Itu adalah jeritan paling jujur yang bisa ada. Saat tanah longsor, banjir bandang menerjang, atau rumah-rumah rubuh, rakyat tak peduli siapa yang paling pandai beretorika. Mereka hanya bertanya: siapa yang paling cepat datang membantu? Faktanya, relawan kerap lebih dulu tiba bukan untuk menyaingi negara, tapi karena waktu tak mau menunggu prosedur birokrasi. Dari situlah kritik itu tumbuh: mengapa negara terasa lamban? Koordinasi kok tersendat? Bantuan tidak merata? Kritik semacam ini sejatinya bukan vonis. Ia lebih seperti alarm peringatan.
Lalu ada kritik terhadap arah kebijakan. Rakyat merasakan keberpihakan dari hal-hal yang langsung menyentuh hidup mereka: harga kebutuhan pokok, layanan kesehatan, lapangan kerja, dan keadilan sosial. Ketika kebijakan terasa menjauh dari kebutuhan mendasar itu, kekecewaan pun menjelma menjadi suara. Di sinilah peran kreator dan aktivis mereka menjadi pengeras suara bagi perasaan yang lama terpendam.
Ada juga kritik yang sunyi tapi dampaknya sangat menentukan: kritik tentang alam. Hutan yang gundul, sungai yang tercemar, izin yang berlapis-lapis, pengawasan yang lembek, dan bencana yang datang silih berganti. Publik mulai menghubungkan titik-titiknya. Kecurigaan sosial mengeras ketika kuasa dan kepentingan ekonomi terlihat berkelindan terlalu mesra. Kritik di titik ini bukan sekadar penolakan terhadap sebuah proyek. Ini adalah tuntutan tanggung jawab moral negara untuk menjaga kehidupan.
Artikel Terkait
Ucapan Raffi Ahmad untuk Raja Tambang Picu Sorotan Warganet
Merapi dan Pantai Jadi Magnet, Yogyakarta Diserbu 1,9 Juta Wisatawan Saat Nataru
Jembatan Penyeberangan Patung Kuda Berwajah Baru, Ornamen Kuda Jadi Daya Tarik
Tangis Khadafi di Makam Ibu, Kakak, dan Adiknya yang Meninggal Bersamaan