Tangis Khadafi di Makam Ibu, Kakak, dan Adiknya yang Meninggal Bersamaan

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 15:06 WIB
Tangis Khadafi di Makam Ibu, Kakak, dan Adiknya yang Meninggal Bersamaan

Suasana haru masih terasa pekat di TPU Rorotan, Jakarta Utara, siang itu. Tiga anggota keluarga yang meninggal dunia di sebuah kontrakan di Warakas akhirnya dimakamkan pada Sabtu (3/1). Prosesi pemakaman berlangsung sejak siang, diiringi derai tangis sanak keluarga yang berdatangan.

Ketiga jenazah itu adalah Siti Solihah (50), Afiah Al Adilah Jamaludin (28), dan Adnan Al Abrar Jamaludin (14). Mereka dimakamkan berdekatan, dalam satu liang kepedihan yang sama.

Sekitar pukul 13.20 WIB, prosesi dimulai. Isak tangis pecah tak terbendung saat satu per satu jenazah mulai diturunkan. Udara terasa berat, dipenuhi oleh duka yang begitu nyata.

Usai pemakaman, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa. Adik ipar Siti Solihah yang memimpin. Dengan khidmat, keluarga yang berdiri mengelilingi nisan turut memanjatkan doa untuk almarhum.

Lalu, munculah Khadafi. Dialah anak Siti Solihah yang pertama kali menemukan keluarganya dalam peristiwa nahas itu. Dengan langkah gontai, ia menyambangi setiap makam. Tangannya menaburkan bunga, sementara air matanya menaburkan kesedihan yang dalam.

Di makam kakaknya, Afiah, ia tak bisa menahan diri.

“Teteh makasih banyak ya. Teteh udah hadir. Maafin aku ya,” ujarnya sambil terisak.

Perasaan yang sama terulang saat ia berdiri di makam adiknya, Adnan. Khadafi terdiam lama, seolah kehilangan kata. Hanya tatapan kosong dan tetesan air mata yang bicara, sebelum akhirnya ia menaburkan bunga lagi.

Semua prosesi selesai sekitar pukul 14.22 WIB. Namun, duka ini belum sepenuhnya usai. Satu korban lain, Abdullah Syauqi Jamaludin (23), masih berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit. Kondisinya disebut masih sangat kritis.

Sementara keluarga mencoba merangkai kembali kepingan hati yang hancur, polisi masih bekerja. Penyebab kematian tiga anggota keluarga ini masih menjadi misteri. Investigasi terus berjalan, mencari jawaban di balik tragedi yang menyisakan luka begitu dalam.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar