Pada Kamis lalu, kelompok separatis Yaman yang dikenal sebagai Southern Transitional Council (STC) mengumumkan sesuatu yang cukup mengejutkan. Mereka bilang, siap menerima kehadiran pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi di wilayah selatan. Padahal, wilayah itu baru mereka rebut paksa Desember kemarin. Kelompok yang dipimpin Aidarous al-Zubaidi ini, dan didukung Uni Emirat Arab, menyatakan tak akan menghalangi masuknya pasukan National Shield. Meski begitu, mereka bersikukuh akan tetap beroperasi di dua provinsi penting: Hadramaut dan al-Mahra.
"Hari ini kami meluncurkan operasi untuk mengintegrasikan pasukan National Shield selatan," begitu bunyi pernyataan resmi STC. Menurut mereka, langkah ini agar pasukan tersebut bisa menjalankan tugas yang menjadi bagian dari angkatan bersenjata mereka.
Di balik pengumuman itu, STC punya alasan. Tujuan utamanya, katanya, adalah melindungi kemajuan yang telah diraih dalam pertarungan melawan kelompok Houthi. Bulan lalu, pasukan mereka berhasil merebut kendali atas wilayah strategis tersebut. Tapi, situasi ini sebenarnya cermin dari retaknya hubungan dua sekutu lama: Arab Saudi dan UEA.
Kedua negara ini sejak 2015 memang bersekutu melawan Houthi yang didukung Iran di utara Yaman. Namun, belakangan hubungan mereka memburuk. Penyebabnya sederhana: beda visi soal masa depan Yaman. Riyadh mendukung pemerintah pusat, sementara Abu Dhabi malah memperkuat pemberontak STC di selatan. Arab Saudi melihat manuver UEA ini berbahaya, berpotensi memicu perang segitiga dan mengancam stabilitas di perbatasan selatan mereka.
Lalu, mengapa Hadramaut dan al-Mahra begitu diperebutkan?
Jawabannya ada pada posisi strategis dan kekayaan alamnya. Hadramaut berbatasan langsung dengan Arab Saudi dan punya ladang minyak terbesar di Yaman, termasuk terminal Dhabba di pesisir Laut Arab. Terminal ini vital untuk ekspor minyak.
Sementara itu, al-Mahra menawarkan sesuatu yang mungkin lebih berharga: jalur potensial untuk pipa minyak baru. Rute ini memungkinkan Saudi mengekspor minyak tanpa harus lewat Selat Hormuz jalur sempit yang sering jadi ajang ketegangan dengan Iran. Mengingat Tehran beberapa kali mengancam akan menutup selat itu, punya alternatif lain jelas sangat berharga.
Karena itulah, Arab Saudi berkali-kali mendesak STC untuk mundur dari wilayah perbatasan ini. Sebuah sumber dekat pemerintah Saudi bahkan bilang pada AFP, penempatan ulang pasukan saja belum cukup. Kekhawatiran Riyadh baru akan reda jika para separatis itu benar-benar angkat kaki dari Hadramaut dan al-Mahra.
Esok harinya, Jumat, pemerintah yang didukung Saudi langsung merespons. Mereka berencana "mengambil kembali secara damai" sejumlah lokasi militer di provinsi kaya itu. Pengumuman operasi ini datang dari Gubernur Hadramaut, Salem Al-Khanbashi, tak lama setelah ia ditunjuk memimpin pasukan National Shield.
"Operasi ini bukan deklarasi perang, dan bukan pula upaya untuk meningkatkan ketegangan," tegas Khanbashi, seperti dikutip kantor berita Saba Net.
Ketegangan Saudi-UEA Memuncak
Suasana panas antara kedua sekutu Teluk ini meledak setelah sebuah insiden. Koalisi pimpinan Saudi mengebom apa yang mereka klaim sebagai kiriman senjata dari UEA untuk pasukan STC di pelabuhan Mukalla. Serangan itu terjadi Selasa lalu. Menurut Riyadh, pengiriman senjata itu ancaman langsung bagi perdamaian.
UEA membantah keras. Mereka malah meminta STC menarik diri dari wilayah yang baru direbut. Tak hanya itu, Kementerian Pertahanan UEA menyatakan akan menarik sisa pasukannya dari Yaman sebagian besar memang sudah ditarik sejak 2019.
Di sisi lain, Dewan Presidensial Yaman yang pro-Saudi mengambil langkah tegas. Mereka umumkan keadaan darurat, terapkan larangan 72 jam untuk semua perlintasan perbatasan, kecuali yang diizinkan Riyadh. Mereka juga minta pasukan UEA pergi dalam 24 jam dan membatalkan perjanjian keamanan dengan Abu Dhabi.
Juru bicara pemerintah UEA, Afra Al Hameli, bersikukuh. "Abu Dhabi menegaskan penolakan sepenuhnya terhadap tuduhan yang terkait dengan memicu konflik di Yaman," katanya. Meski membantah mengirim senjata, UEA mengakui ada transfer kendaraan militer ke STC. Hanya saja, mereka tidak menyebut kapan penarikan pasukan akan dilakukan.
Bayang-bayang Pemisahan Yaman Selatan
Ekspansi STC bulan lalu membuka kembali kemungkinan yang lama tertidur: pemisahan Yaman Selatan. Wilayah ini dulu negara merdeka antara 1967 dan 1990. Kini, dengan kendali yang makin kuat, mimpi kemerdekaan penuh itu terasa makin nyata.
Farea Al-Muslimi, peneliti di Chatham House, punya pandangan menarik. Ia menilai kesepakatan parsial soal penempatan pasukan Saudi ini "lebih bersifat simbolis daripada solusi nyata." Saat ini, STC menguasai hampir seluruh wilayah Yaman Selatan pra-1990. Mereka pegang Aden, pelabuhan strategis sekaligus pusat ekonomi, bahkan pulau Socotra di Samudra Hindia.
Kontrol yang hampir total ini memberi mereka peluang besar. Aden bukan cuma penting secara ekonomi, tapi juga punya nilai simbolis yang kuat. Para analis memperingatkan, koalisi melawan Houthi yang sudah rapuh dan stagnan ini berisiko tinggi runtuh sama sekali.
Peta kekuatan saat ini cukup gamblang: Houthi kuasai sepertiga wilayah di utara dan barat, termasuk ibu kota Sanaa. STC efektif kendalikan sekitar separuh wilayah Yaman. Sementara pemerintah resmi yang didukung Saudi hanya memegang kurang dari 15% wilayah. Yaman, dengan kata lain, berada di titik kritis. Risiko eskalasi perang sipil dan ketegangan geopolitik regional makin nyata dan mengkhawatirkan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha
Artikel Terkait
Gubernur DKI Tegas Larang Sweeping Rumah Makan dan SOTR yang Ricuh Saat Ramadan
Drummer Cilik Papua Shelyn Asah Bakat di Panggung dan Pelajari Lima Bahasa
Dortmund Amankan Keunggulan 2-0 atas Atalanta di Playoff Liga Champions
Gedung Polisi Militer Rusia Runtuh di Dekat Saint Petersburg, Diduga Akibat Ledakan