Evaluasi terhadap pejabat publik juga wajar adanya. Dalam demokrasi, jabatan adalah amanah yang boleh bahkan harus diuji. Mengevaluasi bukan berarti menghina. Itu adalah cara agar kekuasaan tetap sadar diri dan tidak lupa daratan. Risiko terbesar sebuah bangsa bukanlah kritik dari rakyatnya, melainkan kekuasaan yang kebal terhadap koreksi.
Masalahnya, kritik itu kini kerap disambut bukan sebagai cermin, melainkan sebagai ancaman. Negara terlihat sibuk merapikan narasi, menyusun klaim, mengelola citra. Muncul perlombaan yang agak ganjil: negara ingin terlihat lebih sigap ketimbang relawan. Statistik berhadapan dengan logistik di lapangan. Siaran pers berhadapan dengan kenyataan di dapur umum. Publik melihat jarak itu, dan kepercayaan pun perlahan menipis.
Yang paling mencemaskan adalah ketika suasana kritik berubah menjadi ketakutan. Saat ancaman mulai datang. Saat simbol-simbol teror dikirimkan. Saat rumah diserang di tengah malam. Perlu diingat, teror bukanlah bantahan. Teror adalah tanda bahwa si pelaku sudah kehabisan alasan. Ia menciptakan rasa dingin yang menjalar tidak hanya pada korban langsung, tapi pada semua yang menyaksikannya. Orang-orang belajar untuk diam. Demokrasi terlihat tenang, padahal sesungguhnya ia sedang membeku.
Di titik inilah, kecurigaan publik muncul. Dan ini bukan lahir dari prasangka kosong. Ia lahir dari pola yang terlihat: kemiripan bentuk intimidasi, kemiripan target, waktu kemunculan yang berdekatan, serta kenyataan bahwa dalam ekosistem politik modern selalu ada lingkaran pendukung mulai dari relawan politik, buzzer, hingga influencer yang bisa bergerak tanpa label resmi negara, namun dengan efek yang sama-sama membungkam. Ini bukan vonis. Ini persepsi sosial yang nyata. Dan satu-satunya cara mematahkannya adalah dengan membuka kebenaran secara terang-benderang.
Wibawa negara tidak lahir dari kemampuan menutup mulut warganya. Wibawa sejati justru lahir dari keberanian melindungi mereka, termasuk yang paling vokal mengkritik. Negara yang kuat tidak takut dikoreksi. Sebaliknya, negara yang kuat paham bahwa koreksi itu adalah bentuk cinta yang paling tidak nyaman, tapi paling dibutuhkan.
Jalan keluar selalu ada, asal ada kerendahan hati. Teror harus diusut tuntas sampai terang. Korban harus dilindungi dengan tindakan nyata, bukan sekadar janji. Kritik wajib dipisahkan dari kriminalisasi. Relawan harus dirangkul sebagai mitra, bukan dicurigai sebagai lawan. Alam harus dijaga sebagai amanah hidup, bukan cuma komoditas yang dieksploitasi. Di sisi lain, kritik dari publik juga perlu dijaga adab dan faktualitasnya, agar pesan kebenaran yang disampaikan tetap berdiri dengan martabat.
Penutup
Ukuran kebesaran sebuah bangsa bukan terletak pada kemampuannya menutup kritik. Tapi pada keberaniannya membuka ruang untuk dikoreksi. Kisah Ta’if mengingatkan kita: ketika kebenaran dibalas dengan luka, yang akhirnya runtuh bukanlah kebenaran itu sendiri. Melainkan martabat dari mereka yang menolaknya. Demokrasi yang sehat memerlukan dua hal: keberanian moral negara untuk berubah, dan keberanian moral rakyat untuk mengingatkan dengan cara yang beradab. Ruang yang dipenuhi ketakutan hanya akan melahirkan bangsa yang diam, bukan bangsa yang maju.
Artikel Terkait
AS Gempur Venezuela, Klaim Tangkap Maduro di Tengah Kecaman Internasional
Operasi Rahasia AS: Intelijen dan Replika Rumah Aman yang Gagalkan Pelarian Maduro
Gelombang Balik Liburan: 324 Ribu Kendaraan Serbu Jakarta
Klaim Penangkapan Maduro: Sejarah Intervensi AS yang Berulang?