Dunia kembali dikejutkan oleh Amerika Serikat. Kali ini, negeri Paman Sam itu melancarkan serangan militer ke Venezuela, tepat pada Sabtu (3/1) dini hari. Ledakan-ledakan dilaporkan mengguncang Caracas dan sejumlah wilayah lain.
Operasi ini berakhir dengan klaim mengejutkan: penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS. Serangan yang menyasar berbagai lokasi di ibu kota dan negara bagian itu langsung memicu badai kecaman dari pemerintah Venezuela dan mengacaukan dinamika politik internasional.
AS Akui Serangan, Penerbangan Dibatasi
Amerika Serikat secara terbuka mengakui tanggung jawabnya atas serangan militer tersebut. Di Caracas, warga terbangun oleh suara ledakan yang memicu kekacauan dan gangguan keamanan. Menurut otoritas setempat, sasaran serangan mencakup area militer dan fasilitas pemerintahan. Tak tanggung-tanggung, AS juga langsung memberlakukan pembatasan ketat. Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) mengeluarkan larangan bagi semua pesawat AS untuk memasuki wilayah udara Venezuela.
Venezuela Tuding Motif Perebutan Sumber Daya
Pemerintah Venezuela punya tafsir sendiri. Mereka menuding serangan ini punya tujuan yang jelas: merebut kendali atas sumber daya strategis negara, terutama minyak dan mineral berharga lainnya. Infrastruktur penting di Caracas dan sekitarnya menjadi sasaran, yang dinilai sebagai upaya terang-terangan untuk melumpuhkan kedaulatan negara.
“Tujuan serangan ini tidak lain adalah untuk merebut sumber daya strategis Venezuela, terutama minyak dan mineral,”
demikian bunyi pernyataan keras pemerintah Venezuela yang dikutip dari keterangan pers kedutaannya di Indonesia.
Mereka menegaskan, bangsa Venezuela tidak akan tunduk pada tekanan militer maupun politik dari Washington.
Kecaman Keras: Pelanggaran Piagam PBB
Respon resmi Caracas tidak main-main. Mereka mengutuk serangan AS sebagai pelanggaran berat terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Serangan yang terjadi di Caracas, Miranda, Aragua, dan La Guaira itu disebut membahayakan nyawa warga sipil yang tidak bersalah. Venezuela lantas menyampaikan kecaman ini ke komunitas internasional, meminta solidaritas global.
“Republik Bolivarian Venezuela menolak, mengecam, dan mengutuk di hadapan komunitas internasional agresi militer yang sangat serius,”
begitu bunyi pernyataan resmi mereka. Pemerintah juga memperingatkan bahwa eskalasi ini bisa mengancam perdamaian dan stabilitas di kawasan Amerika Latin dan Karibia, mendesak PBB untuk bertindak.
Semangat Bolívar dan Ketegangan yang Berlanjut
Di tengah situasi mencekam, pemerintah Venezuela berusaha membangkitkan semangat nasionalisme. Mereka bersumpah menghadapi intervensi asing ini dengan semangat perjuangan Simón Bolívar, menekankan bahwa hak menentukan nasib sendiri tidak boleh diganggu gugat.
Namun begitu, kekacauan justru muncul dari dalam. Setelah Presiden AS Donald Trump dengan bangga mengklaim pasukan Delta Force telah menangkap Maduro beserta istrinya, pemerintah Venezuela justru mengaku gelap. Mereka tidak tahu di mana keberadaan pemimpin mereka.
Wakil Presiden Delcy Rodriguez dengan lantang menuntut bukti.
“Kami menuntut bukti kehidupan segera dari Presiden Nicolás Maduro dan ibu negara Cilia Flores,”
katanya, memperdalam misteri dan ketegangan antara kedua negara.
Klaim Trump dan Dakwaan Berat
Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyebut operasi itu sebagai keberhasilan besar. Ia mengklaim Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dibawa ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima, untuk kemudian diadili di New York.
“Presiden Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan kelur dari negara itu,”
tulis Trump.
Jaksa Agung AS Pam Bondi kemudian membeberkan dakwaan berat terhadap Maduro, mulai dari konspirasi narkoterorisme hingga kepemilikan senjata mesin. Semua ini, menurut AS, menjadi dasar hukum operasi mereka.
Kilang Minyak Aman, RI Pantau WNI
Di tengah gejolak, ada kabar sedikit melegakan dari sektor energi. Pemerintah Venezuela menyatakan fasilitas produksi dan pengolahan minyaknya tidak terdampak serangan. Operasi kilang dilaporkan tetap berjalan normal. Meski Pelabuhan La Guaira dekat Caracas rusak parah, pelabuhan itu bukanlah pintu ekspor minyak utama.
Sementara itu, dari Jakarta, Kementerian Luar Negeri RI memastikan seluruh Warga Negara Indonesia di Venezuela dalam keadaan aman. Pemerintah terus memantau situasi dan mengimbau WNI untuk tetap tenang namun waspada, serta berkomunikasi dengan KBRI setempat.
Indonesia juga tak lupa menyuarakan prinsip. Kemlu RI menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, menekankan bahwa jalan damai adalah satu-satunya solusi yang berkelanjutan.
Artikel Terkait
Kapolri Perintahkan Bareskrim Tindak Tegas Pencucian Uang dari Tambang Emas Ilegal
PSG Tundukkan Metz 3-0, Perkuat Puncak Klasemen Ligue 1
Al-Hilal dan Al-Ittihad Imbang 1-1 Meski Tamu Main 10 Pemain
Osasuna Kalahkan Real Madrid 2-1 Berkat Gol Pamungkas Garcia