Ketika Dewasa Datang, Rasa Tenang Masa Kecil Justru Menghilang

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:06 WIB
Ketika Dewasa Datang, Rasa Tenang Masa Kecil Justru Menghilang

Hidup dewasa itu ibarat marathon tanpa garis finish yang jelas. Tekanan sosial mengejar dari belakang, urusan karier dan relasi yang makin ruwet, plus tuntutan untuk selalu terlihat baik-baik saja di depan umum. Melelahkan.

Kita sering dipaksa untuk kuat dan sabar, meski sebenarnya di dalam lelah tak terkira. Tempat untuk mengeluh pun seolah-olah tidak ada. Berhenti berjuang? Itu bukan pilihan.

Fenomena kelelahan ini bukan cuma omongan. Sebuah studi kesehatan masyarakat yang melibatkan ribuan pekerja dewasa di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengungkap fakta yang cukup mencengangkan. Sekitar 62% lebih responden mengalami tingkat burnout yang tinggi hingga sangat tinggi.

Penelitian itu mengaitkan kondisi kelelahan ekstrem itu dengan tekanan kerja, tuntutan ekonomi, serta risiko stres dan kecemasan yang makin meningkat.

Di tengah rutinitas yang menjemukan, kenangan masa kecil sering datang menghampiri. Bisa karena melihat foto lama, melewati tempat liburan keluarga zaman dulu, atau sekadar teringat momen sederhana bersama orang tua.

Semuanya memicu kerinduan yang dalam. Bukan berarti hidup dewasa ini buruk, sih. Hanya saja, kadang kita terlalu lelah dan ingin kembali ke masa di mana segalanya terasa lebih aman dan menyenangkan.

Sebenarnya, Kita Rindu Apa?

Kerinduan pada masa kecil itu sebenarnya lebih dari sekadar mainan atau libur panjang. Yang kita rindukan adalah rasa tenang. Masa di mana kita boleh salah tanpa dicap gagal, boleh menangis tanpa perlu alasan yang jelas, dan boleh bergantung pada orang lain tanpa merasa menjadi beban.

Anak-anak diberi ruang yang luas untuk rapuh. Kalau jatuh, ada yang menolong bangun. Tapi kenapa saat terjatuh di usia dewasa, kita cuma dapat pesan, "Harus kuat!"? Seolah tak ada ruang untuk dimengerti lebih dulu.

Pada akhirnya, mungkin yang kita butuhkan bukan benar-benar menjadi anak kecil lagi. Melainkan, bisa merasakan lagi kedamaian saat dunia terasa tidak mengejar-ngejar. Hidup tanpa dibayangi target karier, pencapaian, atau tuntutan sosial untuk menjadi "sesuatu" dalam waktu singkat. Itu saja.


Halaman:

Komentar