Artinya kurang lebih: “Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu ia bersikap lembut kepada mereka, maka lembutlah padanya.” (HR. Muslim no. 1828)
Nah, coba perhatikan. Doa di sini jelas bersyarat, bukan blanket statement. Pemimpin yang berlaku baik, didoakan kebaikan. Sebaliknya, yang membuat rakyat susah, juga ada konsekuensinya dalam doa. Jadi, klaim wajib mendoakan kebaikan untuk pemimpin zalim tanpa syarat, tampaknya jauh dari sunnah Nabi.
Menurut sejumlah pengamat, doktrin itu justru lebih mirip "sunnahnya ahli bid'ah". Gagasan yang dipaksakan, tidak punya akar yang kuat.
Ustadz Anshari Taslim sendiri pernah mengupas tuntas hal ini. Penjelasannya cukup gamblang membedah mana yang sesuai manhaj salaf dan mana yang bukan.
Untuk yang penasaran dan ingin menyimak analisis lebih detail, silakan simak penjelasan lengkapnya.
Artikel Terkait
Tere Liye Bongkar Hitungan Nyata Sumur Bor, Soroti Isu Dana Pribadi Pejabat
Banjir Banten Melanda Jalan hingga Makam, Ratusan Warga Dievakuasi
Pesta Miras dan Joget di Halaman Puskesmas Kolut Bikin Heboh
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat 2021 di Malam Tahun Baru 2026