Isu tentang kewajiban mendoakan pemimpin yang zalim belakangan ini ramai diperbincangkan. Tapi, benarkah ada perintah seperti itu? Nyatanya, dalam khazanah Islam, doktrin semacam itu sulit ditemukan dasarnya. Bahkan, tak ada ulama yang mewajibkannya.
Lalu dari mana asalnya? Ini patut dipertanyakan.
Kalau kita telusuri, justru ada hadits yang menunjukkan sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih kompleks. Beliau tidak serta-merta mendoakan kebaikan untuk semua pemimpin. Kisahnya dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.
Dalam sebuah riwayat, Nabi bersabda:
“Allahumma, man waliya min amri ummati syai-an fa syaqqa ‘alaihim, fasyquq ‘alaihi. Wa man waliya min amri ummati syai-an fa rafaqa bihim, farfuq bihi.”
Artinya kurang lebih: “Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu ia bersikap lembut kepada mereka, maka lembutlah padanya.” (HR. Muslim no. 1828)
Nah, coba perhatikan. Doa di sini jelas bersyarat, bukan blanket statement. Pemimpin yang berlaku baik, didoakan kebaikan. Sebaliknya, yang membuat rakyat susah, juga ada konsekuensinya dalam doa. Jadi, klaim wajib mendoakan kebaikan untuk pemimpin zalim tanpa syarat, tampaknya jauh dari sunnah Nabi.
Menurut sejumlah pengamat, doktrin itu justru lebih mirip "sunnahnya ahli bid'ah". Gagasan yang dipaksakan, tidak punya akar yang kuat.
Ustadz Anshari Taslim sendiri pernah mengupas tuntas hal ini. Penjelasannya cukup gamblang membedah mana yang sesuai manhaj salaf dan mana yang bukan.
Untuk yang penasaran dan ingin menyimak analisis lebih detail, silakan simak penjelasan lengkapnya.
Artikel Terkait
Tes Urine Massal di Polres Jakarta Pusat, Satu Personel Positif Codeine karena Obat Batuk
BMKG Peringatkan Hujan Lebat Berpotensi Banjir dan Longsor di Sulsel
Kementan Pantau Pasokan dan Harga Daging-Telur Jelang Lebaran, Kondisi Umum Stabil
Air Terjun Kali Jodoh di Pinrang: Pesona Alam dan Mitos Pencarian Jodoh yang Ramai Dikunjungi