Malam, Motor, dan Pelajaran Berharga dari Masa Lalu

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 06:06 WIB
Malam, Motor, dan Pelajaran Berharga dari Masa Lalu

Kepala terasa penuh? Biasanya aku langsung menyalakan motor. Tanpa tujuan yang jelas, aku cuma melaju. Biarkan jalan yang menentukan di mana aku akan berhenti. Angin malam, itu selalu membantu. Setidaknya, membuat pikiran yang ruwet jadi sedikit lebih tenang.

Nyatanya, memang ada hal-hal yang tak bisa diselesaikan cuma dengan bicara.

Diam dan menjauh sebentar, justru cara bertahan yang paling aman buatku.

Sejak kecil, aku sudah biasa melakukan segalanya sendiri. Alasannya sederhana: bukan karena aku hebat, tapi karena tak selalu ada tempat untuk bersandar. Jadi ya, aku belajar. Menyelesaikan urusan tanpa banyak bertanya. Menelan perasaan, dan berusaha tak terlalu sering mengeluh. Terus melangkah, meski semangat itu kadang runtuh hanya oleh sepatah dua patah kata.

Dulu, aku tak tumbuh dengan pelukan atau kata-kata penyemangat. Mimpi-mimpiku bahkan sering terdengar terlalu tinggi, tak terjangkau. Reaksiku? Diam. Menyimpan semuanya dalam-dalam, lalu berjalan lagi seolah tak ada apa-apa. Pelan-pelan, itu jadi kebiasaan. Sebuah mekanisme bertahan hidup.

Dan jujur, dulu aku merasa ini tak adil.

Mengapa aku harus belajar berdiri sendiri lebih dulu, sementara yang lain dengan mudah mendapat dukungan?

Namun begitu, hidup punya caranya sendiri. Ia membawaku pergi merantau. Lingkungan baru yang asing, hari-hari yang menuntut adaptasi. Semuanya harus kuhadapi dengan kemampuan seadanya. Aku terpaksa belajar bertahan, menyesuaikan diri, dan yang paling penting mengenali siapa diriku sebenarnya.

Kalau dipikir-pikir, andai sejak awal segalanya dipermudah, mungkin aku tak akan pernah tahu sekuat apa diriku. Kebiasaan mengurus diri sendiri itulah yang justru menyelamatkanku.

Di sisi lain, perantauan juga mengajarkanku arti lain dari "kuat". Di sana, aku bertemu orang-orang yang mengajarkan arti hadir. Hadir untuk mendengar, bukan menghakimi. Hadir untuk menolong, tanpa banyak tanya. Dari mereka, aku pelan-pelan paham bahwa bertumbuh itu tak harus selalu sendirian. Bisa juga dilakukan bersama.

Pengalaman itu mengubah caraku memandang banyak hal, termasuk masa lalu. Aku mulai melihatnya dengan jarak. Lebih tenang, tanpa beban menyalahkan.

Aku mencoba memahami orang tuaku. Mereka membesarkanku dengan cara yang mereka pahami satu-satunya. Cara yang lahir dari pengalaman hidup mereka sendiri, dari apa yang mereka ketahui. Memang, kadang caranya terasa keras. Bahkan menyisakan perih yang tak cepat sembuh.

Tapi kini aku sadar, mereka menjalani peran itu dengan bekal yang mereka miliki tidak lebih.

Tanpa kerja keras mereka, aku tak akan sampai di titik ini. Tak akan punya kesempatan mengenyam pendidikan sejauh ini. Apapun bentuknya, merekalah yang pertama membuka jalan.

Aku tidak serta-merta menyalahkan mereka sepenuhnya.

Tapi aku juga tak membenarkan semua yang dulu menyakitkan. Aku cuma belajar untuk memahami. Bahwa setiap orang tua punya bahasa cinta yang berbeda-beda, dan terkadang, bahasanya tak mudah kita terjemahkan.

Sekarang? Aku masih dalam proses menerima.

Menerima bahwa hidup jarang memberi apa yang kita inginkan, tapi seringkali memberi apa yang kita perlukan. Semua yang telah lalu kubawa saja sebagai bagian dari perjalanan. Tanpa dendam. Tanpa beban kebencian yang memberatkan.

Aku mungkin tak selalu dikuatkan oleh orang lain, tapi aku bertahan.

Dan untuk hari ini, rasanya itu sudah cukup.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar