Setelah sekitar sebulan diterjang banjir dan longsor, denyut ekonomi di Aceh Tamiang mulai berdetak lagi. Di tengah sisa-sisa lumpur dan upaya perbaikan, warung kopi dan mi milik Rina Riana pun kembali buka. Ia memutuskan untuk kembali berjualan meski segalanya belum pulih sepenuhnya.
“Alhamdulillah sudah pemulihan. Sudah lima hari (berjualan),” ujar Rina.
Ia mengaku, kondisi normal memang belum tercapai. Semuanya berjalan bertahap. Tembok warungnya sempat jebol diterjang air. Tapi, kerusakan itu tak mematahkan semangatnya. Baginya, warung ini adalah pintu rezeki dan cara untuk kembali menata hidup.
“Kalau menu untuk makanan, alhamdulillah sudah (lengkap). Tapi kalau untuk perkopian itu ada yang belum karena kita pake kopi mesin biasanya, itu belum kita ada,” paparnya.
Keterbatasan masih ada di mana-mana. Sinyal telepon seluler sudah normal, katanya, tapi jaringan wifi belum terpasang kembali. Meski begitu, Rina berusaha melayani sebaik mungkin. Dan pelanggan pun mulai berdatangan. Rupanya, warga sekitar sudah rindu suasana nongkrong setelah sekian lama hidup dalam kondisi darurat.
“Sudah lumayan, mungkin karena mereka bosen juga ya makan mi dan telur terus,” ceritanya sambil tertawa.
Soal harga, ia berusaha menahan diri. Tak mau menaikkan tarif, mengingat kondisi ekonomi pelanggannya yang juga sedang berjuang. “Masih harga-harga normal,” katanya. Omzet? Jelas belum bisa dipastikan. Tapi bagi Rina, yang penting adalah langkah pertama sudah diambil. “Harus bangkit kan,” ujarnya penuh keyakinan.
Kebangkitan dari Lumpur Setinggi Satu Meter
Di sisi lain, kisah serupa datang dari Arnis, pemilik Rumah Makan Salero Awak. Baru enam hari ini ia bisa kembali berjualan setelah melalui proses pembersihan yang amat melelahkan.
“Tiga minggu (pembersihan). Seminggu kita dengan nyorong (bersihkan) lumpurnya saja,” kenang Arnis pada suatu Jumat di awal Januari.
Lumpurnya, kata dia, mencapai ketinggian satu meter. Isi rumah makan berantakan, peralatan berserakan. Meja menumpuk di atas meja, lemari terpelanting. Melihat kerusakan itu, sedih pasti. Tapi Arnis memilih untuk tegar. “Itu hanya titipan kan. Kita kembalikan saja ke Yang Kuasa,” ucapnya.
Namun begitu, ada satu hal yang akhirnya mendorongnya bangkit: rasa tanggung jawab pada karyawannya. Dari 15 orang yang bekerja dengannya, banyak yang adalah janda dan kondisi ekonominya pas-pasan. Lebih menyedihkan lagi, sebagian besar justru kehilangan rumah mereka sendiri akibat bencana yang sama.
“Dengan nengok pada karyawan saya, rata-rata rumahnya hilang. Habis. Itulah yang membuat ibu bangkit. Rasa kemanusiaan,” tutur Arnis dengan suara bergetar.
Dengan bantuan petugas PU dan relawan, rumah makannya perlahan bisa beroperasi. Omzet mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meski belum seperti dulu. Tapi bagi Arnis, ini sudah menjadi secercah harapan.
“Alhamdulillah omzetnya bagus. Walaupun dengan keterbatasan,” katanya. Ia pun optimis, “Insyaallah ada kehidupan baru di balik musibah ini.”
Dua cerita ini, dari Rina dan Arnis, mungkin hanya secuil dari banyak perjuangan di Aceh Tamiang. Tapi di dalamnya, terpancar jelas semangat untuk terus maju, bangkit, dan menyambung kembali nafas kehidupan.
Artikel Terkait
Sengketa Lahan 400 Hektare di Luwu Timur: Warga Penggarap Berhadapan dengan Sertifikat HPL Pemda
Harga Emas Antam Turun Rp40.000 per Gram, Buyback Anjloh Rp51.000
Presiden Prabowo Hadiri KTT Perdamaian Gaza dan Bahas Perjanjian Dagang dengan AS di Washington
Truk Tangki Tiner Terbakar di Tol Cipali, Lalu Lintas Macet 7 Kilometer